Ilmuwan Temukan Jejak Keberadaan Air di Kerak Planet Mars
Kamis, 18 Maret 2021 - 09:31 WIB
Air terdiri dari satu oksigen dan dua atom hidrogen. Jumlah isotop hidrogen, atau varian, yang disebut deuterium yang ada di Mars memberikan beberapa petunjuk tentang hilangnya air. Tidak seperti kebanyakan atom hidrogen yang hanya memiliki satu proton di dalam inti atomnya, deuterium - atau hidrogen "berat" - menawarkan proton dan neutron. (Baca juga: Cegah Kejahatan Terulang, Residivis Akan Dipasangi Gelang GPS)
Hidrogen biasa dapat lepas melalui atmosfer ke luar angkasa lebih mudah dari deuterium. Kehilangan air melalui atmosfer, menurut para ilmuwan, akan meninggalkan rasio deuterium yang sangat besar dibandingkan dengan hidrogen biasa.
Para peneliti menggunakan model yang mensimulasikan komposisi isotop hidrogen dan volume air Mars . “Ada tiga proses utama dalam model ini: masukan air dari vulkanisme, kehilangan air ke ruang angkasa, dan kehilangan air ke kerak,” kata Scheller.
Melalui model ini dan mencocokkannya dengan kumpulan data isotop hidrogen, peneliti dapat menghitung berapa banyak air yang hilang ke ruang angkasa dan kerak. Para peneliti berpendapat bahwa banyak air terperangkap dalam berbagai mineral yang mengandung air sebagai bagian dari struktur mineralnya. (Baca juga: Gletser Terus Mencair, Apa Pengaruhnya untuk Bumi?)
Air yang terperangkap ini, meski tampak berlimpah jika diambil secara keseluruhan, mungkin tidak menyediakan sumber daya praktis untuk misi astronot ke Mars di masa mendatang. “Jumlah air di dalam batuan atau mineral sangat kecil. Anda harus memanaskan banyak batu untuk melepaskan air dalam jumlah yang cukup banyak,” kata Scheller.
Hidrogen biasa dapat lepas melalui atmosfer ke luar angkasa lebih mudah dari deuterium. Kehilangan air melalui atmosfer, menurut para ilmuwan, akan meninggalkan rasio deuterium yang sangat besar dibandingkan dengan hidrogen biasa.
Para peneliti menggunakan model yang mensimulasikan komposisi isotop hidrogen dan volume air Mars . “Ada tiga proses utama dalam model ini: masukan air dari vulkanisme, kehilangan air ke ruang angkasa, dan kehilangan air ke kerak,” kata Scheller.
Melalui model ini dan mencocokkannya dengan kumpulan data isotop hidrogen, peneliti dapat menghitung berapa banyak air yang hilang ke ruang angkasa dan kerak. Para peneliti berpendapat bahwa banyak air terperangkap dalam berbagai mineral yang mengandung air sebagai bagian dari struktur mineralnya. (Baca juga: Gletser Terus Mencair, Apa Pengaruhnya untuk Bumi?)
Air yang terperangkap ini, meski tampak berlimpah jika diambil secara keseluruhan, mungkin tidak menyediakan sumber daya praktis untuk misi astronot ke Mars di masa mendatang. “Jumlah air di dalam batuan atau mineral sangat kecil. Anda harus memanaskan banyak batu untuk melepaskan air dalam jumlah yang cukup banyak,” kata Scheller.
(ysw)
Lihat Juga :