WHO Temukan Indikasi Virus Corona Sudah Mengganas di China Sejak 2019
Senin, 15 Februari 2021 - 07:59 WIB
China Janjikan Kerja Sama
China telah menjanjikan transparansi dengan penyelidikan WHO. Menanggapi kritik AS yang harus memberikan akses ke data mentah sebelumnya, Kedutaan Besar China di Washington DC mengatakan, "Apa yang telah dilakukan AS dalam beberapa tahun terakhir telah sangat merusak lembaga multilateral, termasuk WHO, dan sangat merusak kerja sama internasional tentang COVID- 19," ucap Juru Bicara Kedutaan Besar China di Amerika Serikat dalam pernyataan resminya.
"Tetapi AS, yang bertindak seolah-olah tidak ada dari semua ini yang pernah terjadi, menuding negara lain yang telah setia mendukung WHO dan WHO sendiri," lanjut pernyataan itu.
"Tim WHO berharap dapat kembali ke Wuhan dalam beberapa bulan kemudian untuk melanjutkan penyelidikannya. Meskipun pihaknya tidak dapat memberikan tanggal konkret untuk perjalanan yang dikonfirmasi," kata Embarek.
Dia mengatakan tim berharap segera memeriksa sampel biologis yang menurut para ahli tidak tersedia bagi mereka pada perjalanan pertama ini, khususnya ribuan sampel dari bank donor darah Wuhan yang berasal dari dua tahun lalu.
"Ada sekitar 200.000 sampel yang tersedia di sana yang sekarang diamankan dan dapat digunakan untuk serangkaian studi baru," kata Embarek. "Akan sangat fantastis jika kami bisa (bekerja) dengan itu," ucap Embarek.
“Kami memahami bahwa sampel ini adalah sampel yang sangat kecil dan hanya digunakan untuk keperluan litigasi,” ujarnya. "Tidak ada mekanisme untuk memungkinkan studi rutin dengan sampel semacam itu."
Dia, mengutarakan, beberapa sampel uji biologis lain yang mungkin terbukti berguna selama misi Wuhan, juga tidak tersedia bagi mereka. "Banyak sampel yang dibuang setelah beberapa bulan atau pekan, tergantung tujuan pengambilannya," katanya.
Embarek, mengatakan, keadaan misi tersebut -periode karantina yang intens dan jarak sosial- telah menyebabkan beberapa frustrasi, bersama dengan pengawasan global atas perilaku dan temuannya. "Kami bekerja sama selama sebulan di antara dua kelompok besar ilmuwan," katanya. "Dan tentu saja, sesekali ... Anda - seperti biasa, di antara ilmuwan yang bersemangat - Anda berdiskusi panas dan kemudian berargumen tentang ini dan itu."
"Ingat, kita memiliki seluruh planet di pundak kita 24 jam sehari selama sebulan, yang tidak membuat pekerjaan di kalangan ilmuwan lebih mudah," pungkasnya. Baca juga:
Xiaomi Mi 11 Pro dengan Snapdragon 888 Segera Meluncur di Eropa
China telah menjanjikan transparansi dengan penyelidikan WHO. Menanggapi kritik AS yang harus memberikan akses ke data mentah sebelumnya, Kedutaan Besar China di Washington DC mengatakan, "Apa yang telah dilakukan AS dalam beberapa tahun terakhir telah sangat merusak lembaga multilateral, termasuk WHO, dan sangat merusak kerja sama internasional tentang COVID- 19," ucap Juru Bicara Kedutaan Besar China di Amerika Serikat dalam pernyataan resminya.
"Tetapi AS, yang bertindak seolah-olah tidak ada dari semua ini yang pernah terjadi, menuding negara lain yang telah setia mendukung WHO dan WHO sendiri," lanjut pernyataan itu.
"Tim WHO berharap dapat kembali ke Wuhan dalam beberapa bulan kemudian untuk melanjutkan penyelidikannya. Meskipun pihaknya tidak dapat memberikan tanggal konkret untuk perjalanan yang dikonfirmasi," kata Embarek.
Dia mengatakan tim berharap segera memeriksa sampel biologis yang menurut para ahli tidak tersedia bagi mereka pada perjalanan pertama ini, khususnya ribuan sampel dari bank donor darah Wuhan yang berasal dari dua tahun lalu.
"Ada sekitar 200.000 sampel yang tersedia di sana yang sekarang diamankan dan dapat digunakan untuk serangkaian studi baru," kata Embarek. "Akan sangat fantastis jika kami bisa (bekerja) dengan itu," ucap Embarek.
“Kami memahami bahwa sampel ini adalah sampel yang sangat kecil dan hanya digunakan untuk keperluan litigasi,” ujarnya. "Tidak ada mekanisme untuk memungkinkan studi rutin dengan sampel semacam itu."
Dia, mengutarakan, beberapa sampel uji biologis lain yang mungkin terbukti berguna selama misi Wuhan, juga tidak tersedia bagi mereka. "Banyak sampel yang dibuang setelah beberapa bulan atau pekan, tergantung tujuan pengambilannya," katanya.
Embarek, mengatakan, keadaan misi tersebut -periode karantina yang intens dan jarak sosial- telah menyebabkan beberapa frustrasi, bersama dengan pengawasan global atas perilaku dan temuannya. "Kami bekerja sama selama sebulan di antara dua kelompok besar ilmuwan," katanya. "Dan tentu saja, sesekali ... Anda - seperti biasa, di antara ilmuwan yang bersemangat - Anda berdiskusi panas dan kemudian berargumen tentang ini dan itu."
"Ingat, kita memiliki seluruh planet di pundak kita 24 jam sehari selama sebulan, yang tidak membuat pekerjaan di kalangan ilmuwan lebih mudah," pungkasnya. Baca juga:
Xiaomi Mi 11 Pro dengan Snapdragon 888 Segera Meluncur di Eropa
(iqb)
Lihat Juga :