Virus Corona Mewabah, Bumi Justru Capai Rekor Suhu Terpanas di Tahun 2020
Sabtu, 16 Januari 2021 - 11:21 WIB
"Proses alami Bumi untuk menyerap karbon dioksida yang dilepaskan oleh aktivitas manusia -tumbuhan dan lautan- tidak cukup untuk mengimbangi berapa banyak karbon dioksida yang kita masukkan ke atmosfer," kata Gavin Schmidt, ilmuwan iklim dan Direktur Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA kepada Space.com.
Proses pemanasan global ini hanya akan berlanjut karena manusia terus memproduksi dan mengeluarkan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana. Faktanya, tingkat karbon dioksida telah meningkat sekitar 50% sejak Revolusi Industri 250 tahun lalu, dan tingkat metana di atmosfer telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam rentang itu, menurut pernyataan NASA.
Model iklim saat ini memperkirakan bahwa, karena planet terus menjadi lebih hangat dari waktu ke waktu, maka kita akan mengalami lebih banyak gelombang panas. Ini akan menyebabkan lebih banyak kekeringan dan kebakaran hutan yang sering kita lihat pada tahun 2020, musim badai lebih intens, naiknya permukaan laut dari pencairan lembaran es dan banyak lagi dampak buruk lainnya.
Konsekuensi Iklim
Salah satu konsekuensi dari kenaikan suhu ini, Kutub Utara mengalami gelombang panas yang serius pada tahun 2020. Suhu musim panas melonjak di atas 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius) di Siberia, dan panas yang meluas di Kutub Utara bahkan menyebabkan wabah kebakaran hutan.
Wabah kebakaran hutan ini menyalakan kembali sesuatu yang dikenal sebagai "kebakaran zombi", yang diamati di Kutub Utara pada tahun 2019. Kebakaran zombi dapat terjadi ketika api membakar di daerah dengan lapisan es, atau tanah kaya karbon yang dapat tetap membeku sepanjang tahun. Kebakaran ini bisa membakar begitu kuat ke lapisan permafrost sehingga bisa bertahan bahkan melalui musim dingin di bawah selimut salju, hanya untuk disingkapkan di musim semi.
Proses pemanasan global ini hanya akan berlanjut karena manusia terus memproduksi dan mengeluarkan gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana. Faktanya, tingkat karbon dioksida telah meningkat sekitar 50% sejak Revolusi Industri 250 tahun lalu, dan tingkat metana di atmosfer telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam rentang itu, menurut pernyataan NASA.
Model iklim saat ini memperkirakan bahwa, karena planet terus menjadi lebih hangat dari waktu ke waktu, maka kita akan mengalami lebih banyak gelombang panas. Ini akan menyebabkan lebih banyak kekeringan dan kebakaran hutan yang sering kita lihat pada tahun 2020, musim badai lebih intens, naiknya permukaan laut dari pencairan lembaran es dan banyak lagi dampak buruk lainnya.
Konsekuensi Iklim
Salah satu konsekuensi dari kenaikan suhu ini, Kutub Utara mengalami gelombang panas yang serius pada tahun 2020. Suhu musim panas melonjak di atas 100 derajat Fahrenheit (38 derajat Celcius) di Siberia, dan panas yang meluas di Kutub Utara bahkan menyebabkan wabah kebakaran hutan.
Wabah kebakaran hutan ini menyalakan kembali sesuatu yang dikenal sebagai "kebakaran zombi", yang diamati di Kutub Utara pada tahun 2019. Kebakaran zombi dapat terjadi ketika api membakar di daerah dengan lapisan es, atau tanah kaya karbon yang dapat tetap membeku sepanjang tahun. Kebakaran ini bisa membakar begitu kuat ke lapisan permafrost sehingga bisa bertahan bahkan melalui musim dingin di bawah selimut salju, hanya untuk disingkapkan di musim semi.
Lihat Juga :