Rumitnya Distribusi Vaksin Covid-19 Buat Masyarakat Miskin Afrika

Jum'at, 15 Januari 2021 - 11:16 WIB
Kotak pendingin itu juga bukan sekadar kotak pengangkut vaksin dengan temperatur yang bisa diatur. Kotak itu dilengkapi dengan sebuah alat yang bisa memonitor lokasi, kelembaban serta temperatur dan dapat mentransmisi data ke distributor secara real time. Jadi ketika terjadi perubahan suhu di kotak pendingin, maka kotak pendingin akan memberikan peringatan agar dilakukan perlakuan khusus. "Idealnya kotak ini akan mampu bertahan mengatur suhu selama seminggu," ucap Oghenetega Iortim.



Hadirnya kulkas atau kotak pendingin tenaga surya itu memang diapresiasi positif. Pasalnya bukan kali ini saja Afrika mengalami kesulitan distribusi vaksin. Saat terjadi penyakit Ebola, Afrika juga mengalami kesulitan yang sama. Tidak heran jika Toby Peters, peneliti dari Africa Centre of Excellence dan University of Birmingham berharap besar pada kotak pendingin buatan Gricd. Baca juga : Motor Listrik Universitas Budi Luhur Akan Diuji di Dua Sirkuit

Dia juga berharap ke depannya Afrika bisa membangun rantai pendingin yang tidak hanya berujung pada pembuatan kotak pendingin tenaga surya tapi juga pembangunan stasiun pembangkit listrik tenaga surya yang bisa mengaliri listrik ke klinik-klinik masyarakat miskin Afrika.

"Kita bisa menginvestasikan jutaan dolar ke alat-alat baru, kenapa kita tidak bisa berinvestasi dengan jumlah yang sama untuk sebuah sistem yang bisa jadi jawaban untuk masalah-masalah baru di masa depan," tegasnya.
(wsb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!