Peneliti Australia Lakukan Studi Emosi Melalui Musik Tanpa Nada dan Suara

Selasa, 01 Desember 2020 - 06:30 WIB
Partisipan kemudian diberikan waktu untuk membaca lirik tersebut dan kemudian menjawab pertanyaan apa yang merea rasakan. Perlu diketahui, Susino juga melakukan beberapa trik yakni dengan tidak memberikan informasi genre yang sesuai dengan lirik lagu yang tersedia.

Hasilnya ternyata para partisipan justru terdapat perubahan emosi dan respons untuk beberapa genre lagu. MIsalnya ketika genre musik tradisional Jepang gagaku diberikan, emosi yang dihasilkan sangat lembut, sementara ketika merekamembaca samba emosi yang terasa adalah kesenangan dan keceriaan. Begitu juga ketika mereka membaca lirik lagu dengan genre heay metal dan hip hop yang mudah menaikkan rasa marah.

Dari situ Susino menyimpulkan adanya stereotype dan prasangka yang mempengaruhi partisipan. Meskipun musik dan liriknya mengekspresikan hal yang berbeda, partisipan sudah terbawa dengan prasangka. (Baca juga : Tempat Fitness Perlu Berhenti Memiliki Bau Tempat Fitness )

Misalnya pada musik tradisional Jepang gagaku yang dianggap lebih kalem dan magis. Partisipan sudah merasakan hal yang sama meskipun lirik lagu yang sebenarnya berupaya menghasilkan emosi yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada genre heavy metal dan hip hop dimana partisipan sudah lebih dulu memiliki stereotipe mengenai kedua genre itu yang sangat akrab dengan kekerasan dan kemarahan.

"Musik selama ini digunakan untuk terapi dan pengenalan psikologi. Namun mengetahu relasi antara perasaan seseorang dengan musik tanpa mengetahui lagu nada-nada musik adalah sesuatu yang mengejutkan. Sepertinya anggapan bahwa musik adalah bahasa universal, tidak ada hubungannya, jika dihubungkan dengan emosi," ucap Susino.
(wsb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!