Lestarikan Warisan Budaya, Aksara Pegon Siap Digitalisasi
Selasa, 24 November 2020 - 10:43 WIB
Prof Yudho mengatakan, bahwa gagasan ini merupakan bagian dari program “Merajut Indonesia melalui Digitalisasi Aksara Nusantara” yang selama ini sudah dijalankan dengan melakukan digitalisasi aksara Jawa, Bali, Sunda, Rejang, Batak, dan Bugis. PANDI melakukan hal ini untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah karena ingin memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia sebagai wujud nasionalisme yang dituangkan dalam bentuk upaya digitalisasi aksara nusantara warisan leluhur agar generasi muda dapat mengenal dan memahami aksara-aksara asli daerah terdahulu yang kini kian terkikis zaman.
Digitalisasi ini nantinya akan memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan bentuk pelestarian budaya lokal agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman.
Menurut Yudho, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Lebih dari 700 (tujuh ratus) bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksaranya sendiri. Digitalisasi akan terus digerakkan oleh PANDI bersama dengan komunitas terkait agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan aksara leluhurnya, dengan begitu aksara daerah akan terus lestari. Digitalisasi aksara nusantara diyakini sebagai kunci untuk tetap menghidupkan warisan nenek moyang.
Gagasan digitalisasi ini memang sengaja dimulai dari bawah agar memunculkan semangat memiliki dari komunitas pendukung aksara yang bersangkutan. Karena itu niat baik dari Pondok Pesantren Al Ikhlas yang berlokasi persis di pantai utara Kabupaten Gresik ini disambut dengan baik oleh Tim PANDI.
Pesantren yang baru dibangun tahun 2007 ini bukan merupakan pesantren warisan melainkan pertama kali didirikan oleh K.H. Alfin Sunhaji (52 tahun) yang merupakan warga asli desa Mukyorejo, Dalegan. KH. Alfin selain memimpin pondok pesantren juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Cabang Gresik, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Dalegan dan juga memimpin Orkes Melayu. Kompleks pesantren tanpa dinding pembatas ini menyatu dengan rumah-rumah warga di desa pantai ini.
Digitalisasi ini nantinya akan memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Pegon karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile dan merupakan bentuk pelestarian budaya lokal agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman.
Menurut Yudho, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Lebih dari 700 (tujuh ratus) bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksaranya sendiri. Digitalisasi akan terus digerakkan oleh PANDI bersama dengan komunitas terkait agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan aksara leluhurnya, dengan begitu aksara daerah akan terus lestari. Digitalisasi aksara nusantara diyakini sebagai kunci untuk tetap menghidupkan warisan nenek moyang.
Gagasan digitalisasi ini memang sengaja dimulai dari bawah agar memunculkan semangat memiliki dari komunitas pendukung aksara yang bersangkutan. Karena itu niat baik dari Pondok Pesantren Al Ikhlas yang berlokasi persis di pantai utara Kabupaten Gresik ini disambut dengan baik oleh Tim PANDI.
Pesantren yang baru dibangun tahun 2007 ini bukan merupakan pesantren warisan melainkan pertama kali didirikan oleh K.H. Alfin Sunhaji (52 tahun) yang merupakan warga asli desa Mukyorejo, Dalegan. KH. Alfin selain memimpin pondok pesantren juga dikenal sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Cabang Gresik, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Dalegan dan juga memimpin Orkes Melayu. Kompleks pesantren tanpa dinding pembatas ini menyatu dengan rumah-rumah warga di desa pantai ini.
Lihat Juga :