Bukan Sekadar Jejaring Pertemanan

Sabtu, 14 November 2020 - 06:01 WIB
"Penggunaan aplikasi ini sama dengan Twitter, hanya saja booming ketika aplikasi ini dijadikan sebagai media berkampanye. Aplikasi ini memiliki sistem penyensoran yang sama seperti Twitter seperti konten pornografi dan rumor palsu," papar pengamat medsos Hariqo Wibawa Satria.

Berdasarkan analisis Satria, ?Parler dan Twitter memiliki peran yang sama sebagai sarana komunikasi publik meskipun penggunaan Parler di Indonesia masih kalah dari penggunaan aplikasi pendahulunya. Namun kalangan konservatif di AS yang merupakan pendukung Donald Trump bertekad menumbangkan Twitter dan Facebook seperti layaknya Friendster.

Berkembangnya medsos di dunia dapat dimaknai dari sisi positif dan negatifnya. Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengungkapkan, penggunaan medsos sebaiknya tetap menjunjung tinggi etika dalam rangka menjalin hubungan sosial secara sehat serta terhindar dari kemungkinan jeratan hukum. "Apa yang tidak pantas dalam jalinan antarmanusia di medsos aturannya sama saja, yakni etika harus berlaku juga," tambahnya. (Baca juga: Gelombang PHK Tak Terbendung, Pengangguran di Bekasi Melonjak)

Tanpa adanya kesadaran dan strategi yang jelas dari pengguna medsos , akan muncul banyak kasus yang berkaitan dengan penipuan atau kasus kriminal lainnya. Heru menilai saat ini mayoritas masyarakat sudah mengerti menggunakan medsos, tetapi belum seluruhnya mengetahui cara yang benar dalam memanfaatkannya.

Masyarakat masih memerlukan edukasi untuk kembali memanfaatkan medsos sesuai dengan tujuan pembentukan aplikasi sosial tersebut. "Manfaat medsos sesungguhnya untuk membangun jaringan antarmanusia dengan mengedepankan saling menghormati satu sama lain. Namun faktanya masih banyak kasus yang berkaitan dengan etika media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi utama medsos belum banyak diphami," ucapnya.

Oleh karenanya tingkat kepercayaan informasi lewat medsos kini dipertanyakan. Terlebih dengan maraknya akun anonim sehingga banyak orang yang memanfaatkan bot untuk bekerja dalam mengangkat isu tertentu. (Lihat videonya: Berkunjung ke Aceh Jangan Lupa Nikmati Kopi Gayo)

"Sekarang waktu yang tepat untuk mengembalikan fungsi medsos ke arah yang benar. Bila tidak, dalam satu tahun ke depan orang tidak akan percaya media sosial," tuturnya. (Aprilia S Andyna)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!