Pemerintah Jamin Faktor Keamanan Vaksin sebagai Prioritas Nomor Satu
Rabu, 28 Oktober 2020 - 12:12 WIB
Keenam Institusi itu adalah LBM Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (Unair).
“Kemungkinan yang paling cepat adalah yang dikembangkan Lembaga Eijkman, prosesnya di bulan Oktober ini sedang disiapkan uji pada hewan. Diharapkan dapat selesai dan semoga hasilnya memuaskan pada akhir tahun," imbuh mantan Kepala Bappenas itu.
Lebih lanjut, Bambang menuturkan, bibit vaksin yang teruji pada sel hewan tersebut akan diserahkan ke Bio Farma, sebagai pihak yang nantinya melakukan produksi sekala kecil untuk tahap uji klinis 1, 2, dan 3.
Pada tahap uji klinis, Bio Farma bertindak sebagai sponsor pelaksana bersama Litbangkes. Sementara BPOM sebagai badan regulator yang mengeluarkan izin edar apabila vaksin nantinya telah selesai uji klinis.
“Uji klinis perlu dilakukan untuk memastikan bahwa vaksin yang dihasilkan aman. Jadi intinya kami juga menerapkan kehati-hatian dalam setiap prosesnya,” ujar Bambang.
“Kemungkinan yang paling cepat adalah yang dikembangkan Lembaga Eijkman, prosesnya di bulan Oktober ini sedang disiapkan uji pada hewan. Diharapkan dapat selesai dan semoga hasilnya memuaskan pada akhir tahun," imbuh mantan Kepala Bappenas itu.
Lebih lanjut, Bambang menuturkan, bibit vaksin yang teruji pada sel hewan tersebut akan diserahkan ke Bio Farma, sebagai pihak yang nantinya melakukan produksi sekala kecil untuk tahap uji klinis 1, 2, dan 3.
Pada tahap uji klinis, Bio Farma bertindak sebagai sponsor pelaksana bersama Litbangkes. Sementara BPOM sebagai badan regulator yang mengeluarkan izin edar apabila vaksin nantinya telah selesai uji klinis.
“Uji klinis perlu dilakukan untuk memastikan bahwa vaksin yang dihasilkan aman. Jadi intinya kami juga menerapkan kehati-hatian dalam setiap prosesnya,” ujar Bambang.
Lihat Juga :