Teknologi AI Jadi Peluang Tuna Netra Mencari Pekerjaan
Rabu, 06 Mei 2026 - 12:43 WIB
Mitra Netra gelar media gathering di Jakarta. FOTO/ Dok SindoNews
JAKARTA - Yayasan Mitra Netra meluncurkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia sebagai upaya mendorong inklusivitas di sektor ketenagakerjaan dengan memafaat teknologi seperti kecerdasan buatan.
Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra, Aria Indrawati mengatakan, direktori ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani potensi tenaga kerja tunanetra dengan kebutuhan industri.
“Penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional. Direktori ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas,” ujar Aria dalammedia gatheringdi Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Data BPS 2024 mencatat dari 17,8 juta penyandang disabilitas di Indonesia, tingkat partisipasi kerja baru mencapai 23,94 persen. Sementara itu, data DTSEN menunjukkan dari 4,2 juta penyandang disabilitas netra, hanya sekitar satu persen yang bekerja di sektor formal.
Rendahnya penyerapan tenaga kerja tunanetra antara lain disebabkan minimnya pemahaman perusahaan terhadap kemampuan dan metode kerja tunanetra. Selain penyediaan aksesibilitas fisik dan digital, perusahaan juga perlu memberikan akomodasi kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pemanfaatan teknologi asistif seperti NVDA serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut membuka peluang lebih luas, melalui fitur seperti text-to-speech dan deskripsi gambar otomatis.
Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra, Aria Indrawati mengatakan, direktori ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani potensi tenaga kerja tunanetra dengan kebutuhan industri.
“Penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional. Direktori ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas,” ujar Aria dalammedia gatheringdi Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Data BPS 2024 mencatat dari 17,8 juta penyandang disabilitas di Indonesia, tingkat partisipasi kerja baru mencapai 23,94 persen. Sementara itu, data DTSEN menunjukkan dari 4,2 juta penyandang disabilitas netra, hanya sekitar satu persen yang bekerja di sektor formal.
Rendahnya penyerapan tenaga kerja tunanetra antara lain disebabkan minimnya pemahaman perusahaan terhadap kemampuan dan metode kerja tunanetra. Selain penyediaan aksesibilitas fisik dan digital, perusahaan juga perlu memberikan akomodasi kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pemanfaatan teknologi asistif seperti NVDA serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut membuka peluang lebih luas, melalui fitur seperti text-to-speech dan deskripsi gambar otomatis.
Lihat Juga :