Teknologinya Berevolusi, Rudal Sejjil-2 Sulit Dicari Kelemahannya
Senin, 23 Maret 2026 - 09:55 WIB
Ini berarti bahwa rudal dapat diluncurkan hampir seketika setelah diperintahkan, alih-alih membutuhkan waktu puluhan menit hingga berjam-jam untuk persiapan seperti sebelumnya.
Sejjil pertama kali diuji pada tahun 2008 dan dengan cepat ditingkatkan ke versi Sejjil-2 hanya setahun kemudian. Pengujian menunjukkan sistem tersebut mencapai stabilitas yang lebih besar dalam lintasan penerbangan dan akurasi yang jauh lebih baik, meskipun spesifikasi detailnya belum sepenuhnya dirilis.
Menurut CSIS, Sejjil-2 memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan berat peluncuran lebih dari 23 ton. Rudal ini dapat membawa hulu ledak seberat 500 hingga 700 kg, dengan perkiraan jangkauan maksimum 2.000 hingga 2.500 km, sehingga banyak target di Timur Tengah (termasuk Israel) dapat dijangkau dalam jangkauan operasionalnya.
Fitur paling menonjol dari sistem ini adalah desain bahan bakar padat dua tahapnya. Tahap pertama bertanggung jawab untuk mendorong rudal dari landasan peluncuran ke ketinggian di luar atmosfer, sementara tahap kedua terus memberikan daya dorong untuk mengirimkan hulu ledak ke targetnya dengan kecepatan tinggi.
Menurut analisis teknis, struktur dua tingkat ini mengoptimalkan kinerja penerbangan sekaligus meningkatkan kapasitas muatan tanpa mengurangi jangkauan.
Selain itu, Sejjil-2 diyakini menggunakan sistem navigasi inersia (INS), kemungkinan dikombinasikan dengan metode koreksi lintasan untuk meningkatkan akurasi.
Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa probabilitas kesalahan melingkar (CEP) bisa di bawah 100m; namun, angka-angka ini terutama didasarkan pada analisis teknis.
Perlu dicatat, kecepatan masuk kembali Sejjil-2 dapat melebihi Mach 10 (12.250 km/jam). Kecepatan ini tidak hanya mempersingkat waktu reaksi sistem pertahanan tetapi juga secara signifikan meningkatkan energi kinetik saat benturan, sehingga meningkatkan efektivitas penetrasinya terhadap target.
Namun, beberapa ahli mencatat bahwa kemampuan manuver tahap akhir Sejjil-2 belum sepenuhnya terkonfirmasi, dan banyak penilaian saat ini masih didasarkan pada analisis teoretis atau klaim dari Iran.
Dengan waktu persiapan yang singkat dan kemampuan untuk dikerahkan pada peluncur bergerak, Sejjil-2 dianalisis untuk meningkatkan kemampuan serangan balik jika terjadi serangan pendahuluan.
Sejjil pertama kali diuji pada tahun 2008 dan dengan cepat ditingkatkan ke versi Sejjil-2 hanya setahun kemudian. Pengujian menunjukkan sistem tersebut mencapai stabilitas yang lebih besar dalam lintasan penerbangan dan akurasi yang jauh lebih baik, meskipun spesifikasi detailnya belum sepenuhnya dirilis.
Menurut CSIS, Sejjil-2 memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan berat peluncuran lebih dari 23 ton. Rudal ini dapat membawa hulu ledak seberat 500 hingga 700 kg, dengan perkiraan jangkauan maksimum 2.000 hingga 2.500 km, sehingga banyak target di Timur Tengah (termasuk Israel) dapat dijangkau dalam jangkauan operasionalnya.
Fitur paling menonjol dari sistem ini adalah desain bahan bakar padat dua tahapnya. Tahap pertama bertanggung jawab untuk mendorong rudal dari landasan peluncuran ke ketinggian di luar atmosfer, sementara tahap kedua terus memberikan daya dorong untuk mengirimkan hulu ledak ke targetnya dengan kecepatan tinggi.
Menurut analisis teknis, struktur dua tingkat ini mengoptimalkan kinerja penerbangan sekaligus meningkatkan kapasitas muatan tanpa mengurangi jangkauan.
Selain itu, Sejjil-2 diyakini menggunakan sistem navigasi inersia (INS), kemungkinan dikombinasikan dengan metode koreksi lintasan untuk meningkatkan akurasi.
Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa probabilitas kesalahan melingkar (CEP) bisa di bawah 100m; namun, angka-angka ini terutama didasarkan pada analisis teknis.
Perlu dicatat, kecepatan masuk kembali Sejjil-2 dapat melebihi Mach 10 (12.250 km/jam). Kecepatan ini tidak hanya mempersingkat waktu reaksi sistem pertahanan tetapi juga secara signifikan meningkatkan energi kinetik saat benturan, sehingga meningkatkan efektivitas penetrasinya terhadap target.
Namun, beberapa ahli mencatat bahwa kemampuan manuver tahap akhir Sejjil-2 belum sepenuhnya terkonfirmasi, dan banyak penilaian saat ini masih didasarkan pada analisis teoretis atau klaim dari Iran.
Dengan waktu persiapan yang singkat dan kemampuan untuk dikerahkan pada peluncur bergerak, Sejjil-2 dianalisis untuk meningkatkan kemampuan serangan balik jika terjadi serangan pendahuluan.
Lihat Juga :