Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

Kamis, 05 Maret 2026 - 09:34 WIB
Tak membuang waktu, pesaing Anthropic yakni OpenAI, pada Jumat malamnya langsung mengumumkan telah mengantongi kesepakatan dengan Pentagon untuk menerapkan "sistem AI canggih di lingkungan rahasia".

Israel juga memiliki rekam jejak AI yang tak kalah kejam. Sejak 2021, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menggunakan sistem AI bernama Habsora untuk mencetak target-target serangan dari gundukan data intelijen.

Reputasi siber Israel juga tak terbantahkan saat mereka meretas dan meledakkan pager komunikasi Hizbullah—organisasi yang didukung Iran—dari jarak jauh pada bulan September 2024 lalu.

Serangan Siber: Hancurnya Jaringan Komunikasi

Bom fisik selalu berdampingan dengan bom digital. Serangan kinetik ke Teheran dibarengi dengan kekacauan di ranah siber. Iran mengalami pemadaman internet nyaris total pada hari Sabtu.

Situs web berita diretas. Bahkan, sebuah aplikasi kalender agama populer bernama BadeSaba disusupi pesan ancaman berbunyi, "Waktunya untuk perhitungan", serta mendesak angkatan bersenjata untuk bergabung dengan rakyat.

Taktik ini sebelumnya terbukti manjur. Pada bulan Januari lalu, Pasukan Luar Angkasa dan Komando Siber AS terlibat menekan kekuatan pertahanan Venezuela saat menangkap Nicolás Maduro yang terguling, di mana AS bahkan diduga mengacaukan jaringan listrik negara tersebut.

Angkatan Laut AS pun saat itu mengerahkan pesawat EA-18G Growler untuk mengacak radar komunikasi musuh. Mundur sedikit pada bulan Juni lalu, militer AS juga menggunakan senjata siber untuk mengacak-acak sistem pertahanan rudal Iran selama serangan ke tiga situs nuklir.

Matt Holland, CEO Field Effect Software Inc. sekaligus mantan penulis kode untuk agen mata-mata siber Kanada, menjelaskan bahwa teknologi peretasan pasti dikerahkan untuk melumpuhkan komunikasi di dalam Iran saat serangan fisik berlangsung.

AS dan Israel diyakini telah memetakan semua aset komputer lawan jauh-jauh hari, sehingga rencana tersebut dieksekusi secepat kilat.

"Anda pasti ingin melumpuhkan komando kendali agar tidak bisa mengeluarkan perintah radio ke sistem rudal untuk meluncur," tambah Ken Nickerson, penasihat teknologi dari Creative Destruction Lab Toronto.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!