Gelombang Boikot ChatGPT Mengemuka Setelah Terima Kontrak dari Departemen Perang AS
Rabu, 04 Maret 2026 - 13:53 WIB
Di bawah Undang-Undang Patriot (Patriot Act) yang disahkan pasca-tragedi 9/11, pengawasan massal terhadap warga negara Amerika adalah sesuatu yang "sah secara hukum" dalam skenario tertentu.
Undang-undang ini mengizinkan pemerintah memanen data komunikasi secara massal.
Meski pemerintah berdalih hanya memata-matai warga asing, undang-undang AS sepenuhnya melegalkan pengumpulan data warga lokal yang tidak sengaja "tersapu" dalam jaring pengawasan tersebut.
Perbedaan fundamentalnya sangat jelas. Anthropic ingin memegang kendali penuh atas bagaimana teknologi mereka digunakan agar tidak disalahgunakan.
Sebaliknya, Sam Altman dengan senang hati membiarkan pemerintah AS yang menafsirkan sendiri batas-batas hukum tersebut.
Mengapa Raksasa Teknologi Haus Kontrak Militer?
Langkah kontroversial OpenAI ini tidak lepas dari tekanan finansial yang luar biasa besar.
Berdasarkan tren pasar 2026, perusahaan pembuat AI butuh suntikan dana raksasa untuk menghidupi server mereka yang membakar uang setiap detiknya.
Baru-baru ini, ChatGPT menutup putaran pendanaan yang membuat valuasi perusahaan melonjak ke angka yang tidak masuk akal, yakni USD730 miliar (Rp11.461 triliun).
Pendanaan raksasa ini didukung oleh nama-nama besar seperti Amazon, Softbank, dan NVIDIA. Microsoft, yang sebelumnya menginvestasikan miliaran dolar, menyatakan akan terus bekerja sama dengan OpenAI, meskipun belakangan mereka juga berencana membangun model AI mereka sendiri.
Dengan valuasi setinggi itu, model bisnis berlangganan konsumen biasa tidak akan cukup untuk mengembalikan modal.
Undang-undang ini mengizinkan pemerintah memanen data komunikasi secara massal.
Meski pemerintah berdalih hanya memata-matai warga asing, undang-undang AS sepenuhnya melegalkan pengumpulan data warga lokal yang tidak sengaja "tersapu" dalam jaring pengawasan tersebut.
Perbedaan fundamentalnya sangat jelas. Anthropic ingin memegang kendali penuh atas bagaimana teknologi mereka digunakan agar tidak disalahgunakan.
Sebaliknya, Sam Altman dengan senang hati membiarkan pemerintah AS yang menafsirkan sendiri batas-batas hukum tersebut.
Mengapa Raksasa Teknologi Haus Kontrak Militer?
Langkah kontroversial OpenAI ini tidak lepas dari tekanan finansial yang luar biasa besar.
Berdasarkan tren pasar 2026, perusahaan pembuat AI butuh suntikan dana raksasa untuk menghidupi server mereka yang membakar uang setiap detiknya.
Baru-baru ini, ChatGPT menutup putaran pendanaan yang membuat valuasi perusahaan melonjak ke angka yang tidak masuk akal, yakni USD730 miliar (Rp11.461 triliun).
Pendanaan raksasa ini didukung oleh nama-nama besar seperti Amazon, Softbank, dan NVIDIA. Microsoft, yang sebelumnya menginvestasikan miliaran dolar, menyatakan akan terus bekerja sama dengan OpenAI, meskipun belakangan mereka juga berencana membangun model AI mereka sendiri.
Dengan valuasi setinggi itu, model bisnis berlangganan konsumen biasa tidak akan cukup untuk mengembalikan modal.
Lihat Juga :