Belajar dari Kasus New York Times, Komdigi Tolak Karya Jurnalis dan Kreator RI Dibajak Mesin AI
Selasa, 03 Maret 2026 - 18:01 WIB
“Platform global seperti Google, Meta, dan TikTok mengumpulkan dan mengolah data dalam skala besar. Data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi berbasis big data dan kecerdasan buatan,” ujar Nezar.
Mereka butuh menelan miliaran teks setiap harinya agar bisa bicara seperti manusia lokal.
Karena itu, percakapan netizen, karya jurnalistik, hingga tulisan akademik warga Indonesia disedot habis-habisan secara sepihak.
Wamen Nezar memberikan contoh konkret dari kasus The New York Times yang dengan tegas membatasi akses konten mereka agar tidak "dirampok" secara gratis oleh sistem AI seperti OpenAI.
Sengketa ini membuktikan bahwa sebuah gaya penulisan dan berita memiliki nilai ekonomi serta hak kekayaan intelektual yang wajib dibayar.
Tren Pasar 2026: Kelaparan Mesin AI
Jika kita melihat tren pasar teknologi di 2026, mesin pencari dan robot AI (seperti ChatGPT atau Gemini) sedang berada dalam fase "kelaparan massal".Mereka butuh menelan miliaran teks setiap harinya agar bisa bicara seperti manusia lokal.
Karena itu, percakapan netizen, karya jurnalistik, hingga tulisan akademik warga Indonesia disedot habis-habisan secara sepihak.
Wamen Nezar memberikan contoh konkret dari kasus The New York Times yang dengan tegas membatasi akses konten mereka agar tidak "dirampok" secara gratis oleh sistem AI seperti OpenAI.
Sengketa ini membuktikan bahwa sebuah gaya penulisan dan berita memiliki nilai ekonomi serta hak kekayaan intelektual yang wajib dibayar.
Lihat Juga :