Mijia Smart Audio Glasses Meluncur, Strategi Xiaomi Kuasai Ekosistem Wearable di 2026

Sabtu, 24 Januari 2026 - 09:42 WIB
Sebagai pembanding, Redmi Buds 8 Lite memakai driver 12,4mm, Bluetooth 5.4, codec AAC/SBC, 5 mode EQ, Hybrid ANC hingga 42dB, mode transparansi, dan AI ENC dengan dual mic yang tetap jernih di angin 6 m/s. Mendukung dual-device dan total daya tahan 36 jam, fast charge 10 menit untuk 2 jam.

Dampak Pasar dan Potensi Tren

Harga menjadi faktor krusial. Redmi Buds 8 Lite Rp319.000, sementara Mijia Smart Audio Glasses Rp3.599.000 (Titanium) dan Rp3.199.000 (Pilot-Style/Browline). Segmen Rp3 jutaan menempatkannya di area lifestyle tech, bukan mass market, tetapi cukup terjangkau untuk early adopter.

Secara pasar, kacamata audio berpotensi tumbuh karena memenuhi kebutuhan multitasking—mendengar audio tanpa menutup telinga, relevan untuk kerja mobile, olahraga ringan, dan interaksi sosial. Ini berbeda dari AR glasses mahal; Xiaomi memilih fungsi audio dulu, menekan hambatan adopsi.

Bisa Jadi Tren?

Jika melihat pola TWS beberapa tahun lalu—awal dianggap niche lalu menjadi mainstream—kacamata audio punya peluang serupa, terutama di kota besar.

Tantangannya ada pada kebiasaan pengguna dan persepsi sosial. Namun strategi Xiaomi jelas: memanfaatkan basis pengguna Redmi yang besar sebagai pintu distribusi teknologi baru.

Pada 2026, Redmi tak lagi sekadar merek ponsel murah, melainkan jembatan menuju era wearable yang menyatu dengan gaya hidup. Jika adopsi berhasil, kacamata pintar bukan lagi aksesori unik, melainkan bagian rutin dari ekosistem digital harian.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!