Mijia Smart Audio Glasses Meluncur, Strategi Xiaomi Kuasai Ekosistem Wearable di 2026
Sabtu, 24 Januari 2026 - 09:42 WIB
loading...
Kacamata pintar diharapkan jadi tren baru, dipadu dengan Redmi Note 15 series. Foto: Xiaomi Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Xiaomi resmi menghadirkan Mijia Smart Audio Glasses di Indonesia, menandai langkah strategis Redmi pada 2026 untuk memperluas peran dari sekadar merek smartphone menjadi pintu masuk ekosistem wearable pintar.
Peluncuran ini bersamaan dengan Redmi Note 15 Series dan Redmi Buds 8 Lite, mempertegas arah Xiaomi membangun ekosistem “Human x Car x Home”.
“Kedua wearable ini dirancang menjawab kebutuhan pengguna Indonesia yang aktif dan produktif,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Strateginya jelas—pengguna masuk lewat ponsel, lalu “dikunci” di ekosistem lewat audio, wearable, dan perangkat pintar lain.
Kacamata Pintar: Bentuk Baru Perangkat Audio
Mijia Smart Audio Glasses menawarkan pendekatan open-ear, berbeda dari TWS. Menggunakan 4 mikrofon dengan noise reduction angin hingga 4,5 m/s, serta privacy mode berbasis algoritma untuk meminimalkan kebocoran suara.
Tersedia varian Titanium (27,6 gram), Pilot-Style, dan Browline. Dua model terakhir mendukung quick-release, sementara Titanium dan Browline memiliki perlindungan cahaya biru 25%. Pilot-Style membawa lensa hitam UV400 hingga 99,99%.
Strukturnya memakai engsel piano-wire tahan 15.000 lipatan dan sertifikasi IP54. Baterai 114mAh memberi daya tahan 13 jam pemutaran musik, fast charge 10 menit untuk 4 jam, dan pengisian penuh sekitar 1 jam.
Kontrol melalui aplikasi Xiaomi Glasses mendukung asisten suara, pelacakan perangkat, dual-device connectivity, serta fitur perekaman dengan indikator LED.
Redmi Buds 8 Lite: Audio Fokus
Sebagai pembanding, Redmi Buds 8 Lite memakai driver 12,4mm, Bluetooth 5.4, codec AAC/SBC, 5 mode EQ, Hybrid ANC hingga 42dB, mode transparansi, dan AI ENC dengan dual mic yang tetap jernih di angin 6 m/s. Mendukung dual-device dan total daya tahan 36 jam, fast charge 10 menit untuk 2 jam.
Secara pasar, kacamata audio berpotensi tumbuh karena memenuhi kebutuhan multitasking—mendengar audio tanpa menutup telinga, relevan untuk kerja mobile, olahraga ringan, dan interaksi sosial. Ini berbeda dari AR glasses mahal; Xiaomi memilih fungsi audio dulu, menekan hambatan adopsi.
Tantangannya ada pada kebiasaan pengguna dan persepsi sosial. Namun strategi Xiaomi jelas: memanfaatkan basis pengguna Redmi yang besar sebagai pintu distribusi teknologi baru.
Pada 2026, Redmi tak lagi sekadar merek ponsel murah, melainkan jembatan menuju era wearable yang menyatu dengan gaya hidup. Jika adopsi berhasil, kacamata pintar bukan lagi aksesori unik, melainkan bagian rutin dari ekosistem digital harian.
Peluncuran ini bersamaan dengan Redmi Note 15 Series dan Redmi Buds 8 Lite, mempertegas arah Xiaomi membangun ekosistem “Human x Car x Home”.
“Kedua wearable ini dirancang menjawab kebutuhan pengguna Indonesia yang aktif dan produktif,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Posisi Redmi 2026: dari Value ke Ekosistem
Selama bertahun-tahun, Redmi identik dengan smartphone value for money. Namun pada 2026, posisinya bergeser: Redmi menjadi penggerak adopsi perangkat AIoT yang lebih luas.Strateginya jelas—pengguna masuk lewat ponsel, lalu “dikunci” di ekosistem lewat audio, wearable, dan perangkat pintar lain.
Kacamata Pintar: Bentuk Baru Perangkat Audio
![Mijia Smart Audio Glasses Meluncur, Strategi Xiaomi Kuasai Ekosistem Wearable di 2026]()
Mijia Smart Audio Glasses menawarkan pendekatan open-ear, berbeda dari TWS. Menggunakan 4 mikrofon dengan noise reduction angin hingga 4,5 m/s, serta privacy mode berbasis algoritma untuk meminimalkan kebocoran suara.
Tersedia varian Titanium (27,6 gram), Pilot-Style, dan Browline. Dua model terakhir mendukung quick-release, sementara Titanium dan Browline memiliki perlindungan cahaya biru 25%. Pilot-Style membawa lensa hitam UV400 hingga 99,99%.
Strukturnya memakai engsel piano-wire tahan 15.000 lipatan dan sertifikasi IP54. Baterai 114mAh memberi daya tahan 13 jam pemutaran musik, fast charge 10 menit untuk 4 jam, dan pengisian penuh sekitar 1 jam.
Kontrol melalui aplikasi Xiaomi Glasses mendukung asisten suara, pelacakan perangkat, dual-device connectivity, serta fitur perekaman dengan indikator LED.
Redmi Buds 8 Lite: Audio Fokus
![Mijia Smart Audio Glasses Meluncur, Strategi Xiaomi Kuasai Ekosistem Wearable di 2026]()
Sebagai pembanding, Redmi Buds 8 Lite memakai driver 12,4mm, Bluetooth 5.4, codec AAC/SBC, 5 mode EQ, Hybrid ANC hingga 42dB, mode transparansi, dan AI ENC dengan dual mic yang tetap jernih di angin 6 m/s. Mendukung dual-device dan total daya tahan 36 jam, fast charge 10 menit untuk 2 jam.
Dampak Pasar dan Potensi Tren
Harga menjadi faktor krusial. Redmi Buds 8 Lite Rp319.000, sementara Mijia Smart Audio Glasses Rp3.599.000 (Titanium) dan Rp3.199.000 (Pilot-Style/Browline). Segmen Rp3 jutaan menempatkannya di area lifestyle tech, bukan mass market, tetapi cukup terjangkau untuk early adopter.Secara pasar, kacamata audio berpotensi tumbuh karena memenuhi kebutuhan multitasking—mendengar audio tanpa menutup telinga, relevan untuk kerja mobile, olahraga ringan, dan interaksi sosial. Ini berbeda dari AR glasses mahal; Xiaomi memilih fungsi audio dulu, menekan hambatan adopsi.
Bisa Jadi Tren?
Jika melihat pola TWS beberapa tahun lalu—awal dianggap niche lalu menjadi mainstream—kacamata audio punya peluang serupa, terutama di kota besar.Tantangannya ada pada kebiasaan pengguna dan persepsi sosial. Namun strategi Xiaomi jelas: memanfaatkan basis pengguna Redmi yang besar sebagai pintu distribusi teknologi baru.
Pada 2026, Redmi tak lagi sekadar merek ponsel murah, melainkan jembatan menuju era wearable yang menyatu dengan gaya hidup. Jika adopsi berhasil, kacamata pintar bukan lagi aksesori unik, melainkan bagian rutin dari ekosistem digital harian.
(dan)
Lihat Juga :