ChatGPT Divonis Bikin Rusak Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Selasa, 01 Juli 2025 - 10:47 WIB
Mereka mempelajari 54 peserta, membagi mereka menjadi tiga kelompok selama tiga bulan. Satu kelompok secara eksklusif menggunakan ChatGPT untuk menulis esai, kelompok lain mengandalkan mesin pencari tradisional seperti Google (tanpa AI ), dan kelompok ketiga hanya menggunakan ingatan dan penalaran mereka.

Peserta diminta untuk menulis esai berdasarkan perintah SAT, dengan sesi keempat memungkinkan mereka untuk berganti kelompok.

Tidak mengherankan, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada chatbot, seiring waktu, dapat menumpulkan kognisi, pemikiran kritis, dan kreativitas.

Para peneliti menyebut fenomena itu sebagai "utang kognitif" — istilah yang menunjukkan bahwa penggunaan perangkat AI secara sering dapat menghambat proses mental yang terlibat dalam berpikir mandiri.

Dibandingkan dengan kelompok lain, peserta yang menggunakan mesin pencari tradisional secara konsisten lebih puas dengan esai mereka. Sebaliknya, mereka yang mengandalkan AI melaporkan perasaan campur aduk tentang kualitas pekerjaan mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!