Wabah ChatGPT di Indonesia: Berkah Produktivitas atau Awal dari Kiamat Berpikir Kritis?
Selasa, 01 Juli 2025 - 10:01 WIB
Menurut Chatterji, fenomena ini didorong oleh demografi emas Indonesia: kaum muda. "Pasar ini sangat didominasi oleh anak muda. Ini adalah dunianya anak muda, dan profil demografi menunjukkan bahwa generasi muda akan memimpin perkembangan di Indonesia," kata pria yang pernah menjadi Penasihat Teknologi Gedung Putih itu.
ChatGPT tidak lagi hanya digunakan untuk iseng. "Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka menggunakan ChatGPT untuk belajar coding atau membantu menulis kode," ungkapnya. Bahkan, fitur pembuatan gambar (image generation) menjadi salah satu yang paling populer di Indonesia.
Chatterji memandang ini sebagai sebuah sinyal positif, sebuah kunci untuk membuka kemakmuran ekonomi di masa depan. Namun, di balik optimisme ini, ada sebuah pandangan yang jauh lebih kelam.
"Jika kita tak lagi terbiasa membedakan argumen yang logis dari yang menyesatkan, maka kita mudah ditipu oleh narasi apapun yang terdengar meyakinkan," tulisnya dalam postingan di Instagram. "Kita mudah diperdaya oleh hoaks, propaganda, juga bias AI itu sendiri."
Yuswohady memperingatkan adanya tiga "kiamat" intelektual yang mengancam:
ChatGPT tidak lagi hanya digunakan untuk iseng. "Banyak siswa yang mengatakan bahwa mereka menggunakan ChatGPT untuk belajar coding atau membantu menulis kode," ungkapnya. Bahkan, fitur pembuatan gambar (image generation) menjadi salah satu yang paling populer di Indonesia.
Chatterji memandang ini sebagai sebuah sinyal positif, sebuah kunci untuk membuka kemakmuran ekonomi di masa depan. Namun, di balik optimisme ini, ada sebuah pandangan yang jauh lebih kelam.
Peringatan Keras: Saat Otak Manusia Mulai 'Pensiun'
Yuswohady, Managing Partner dari firma riset Inventure, menyuarakan kritik tajam. Menurutnya, kecanduan pada AI adalah jalan pintas menuju kemalasan berpikir, yang pada akhirnya akan mematikan nalar kritis dan orisinalitas."Jika kita tak lagi terbiasa membedakan argumen yang logis dari yang menyesatkan, maka kita mudah ditipu oleh narasi apapun yang terdengar meyakinkan," tulisnya dalam postingan di Instagram. "Kita mudah diperdaya oleh hoaks, propaganda, juga bias AI itu sendiri."
Yuswohady memperingatkan adanya tiga "kiamat" intelektual yang mengancam:
Lihat Juga :