Paradoks Kripto Indonesia: Jadi Raja Adopsi Dunia, tapi Anak Bawang Soal Skill
Kamis, 12 Juni 2025 - 08:04 WIB
Pesta di Pasar Ritel, tapi Pondasi Rapuh?
Laporan The 2024 Geography of Crypto Report dari Chainalysis memang menempatkan Indonesia di posisi terhormat. Aktivitas investor ritel kita di sektor Keuangan Terdesentralisasi (DeFi) sangat tinggi. Namun, kegairahan ini kontras dengan rapor merah dari sisi sumber daya manusia.Robby, Chief Compliance Officer (CCO) Reku sekaligus Ketua Umum ASPAKRINDO-ABI, mengakui bahwa kenaikan jumlah investor ini adalah sinyal positif. Namun, ia juga secara implisit menyuarakan kegelisahan yang sama. Ia menegaskan bahwa Indonesia masih perlu meningkatkan inovasi di industri blockchain dan Web3.
"Saat ini, aset kripto di Indonesia bukan lagi dianggap sebagai komoditas, namun sebuah instrumen investasi. Hal ini tentunya membuka prospek pengembangan inovasi yang lebih variatif," jelas Robby. Pernyataannya ini adalah sebuah desakan halus bahwa industri saat ini masih terlalu fokus pada jual-beli, dan belum banyak melahirkan inovasi produk yang lebih kompleks.
Regulator Membuka Pintu, Siapa yang Akan Masuk?
Pemerintah, melalui regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebenarnya telah membuka pintu bagi para inovator untuk bereksperimen. Ini adalah kesempatan emas untuk menguji coba ide-ide baru di luar sekadar bursa kripto konvensional."Regulator memiliki peran komprehensif," lanjut Robby, menyoroti pentingnya fasilitas ini untuk mendorong kajian-kajian baru di industri.
Lihat Juga :