Bisakah Orang Kecanduan ChatGPT? Simak Penjelasannya

Kamis, 29 Mei 2025 - 16:57 WIB
Laporan tersebut menggambarkan beberapa pengguna yang memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan chatbot. Bahkan, ada yang sampai pada titik mulai memperlakukan ChatGPT sebagai teman.

Pada tujuannya, ChatGPT memang diciptakan untuk memberikan jawaban yang cepat, relevan, dan sering kali menghibur. Aksi ini bisa menciptakan pola pemakaian yang berulang, karena penggunanya merasa nyaman saat berinteraksi.

Berdasarkan penelitian dari Universitas Cambridge (2023), interaksi dengan AI dalam bentuk percakapan telah memicu efek umpan balik positif. Di sini, pengguna cenderung akan kembali memakainya karena merasa dihargai atau dibantu olehnya.

Sebagai contoh, pelajar mungkin sangat bergantung pada ChatGPT untuk mengerjakan tugas. Sedangkan pekerja kantoran memanfaatkannya untuk mengembangkan ide.

Selain itu, kemampuan AI untuk meniru percakapan manusia juga menjadikannya menarik bagi orang-orang yang merasa kesepian. Hal ini akan semakin meningkatkan risiko ketergantungan emosional.

Penelitian lain dari Pew Research Center (2024) menemukan bahwa 15% pengguna AI percakapan melaporkan penggunaan alat seperti ChatGPT lebih dari 3 jam dalam sehari. Tak sekadar mengerjakan tugas, mereka umumnya memakai chatbot untuk hiburan atau mengatasi kebosanan.

Tanda-tanda Ketergantungan pada ChatGPT

Kecanduan terhadap ChatGPT cukup mudah dikenali melalui beberapa indikator. Di antaranya seperti kesulitan dalam mengurangi penggunaan, meski menyadari dampak negatifnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!