Peneliti Indonesia Tak Khawatirkan Mutasi Virus Corona D614G
Jum'at, 04 September 2020 - 17:00 WIB
Amin menambahkan, kinerja vaksin tidak akan terpengaruh, selama vaksin ditujukan pada RBD yang merupakan bagian dari virus spike yang dijadikan target vaksin. “Meskipun perubahan terjadi pada spike protein, namun pada lokasi yang berbeda. Sehingga RBD tidak terganggu, selama vaksin ini ditujukan ada RBD maka tidak akan mengganggu kinerja vaksin,” klaim Amin.
Amin mengklaim, Indonesia telah mengirim 24 sampel virus genom atau whole genom sequencing (WGS) SARS-CoV-2 ke lembaga global GISAID. Dari 24 sampel virus genom tersebut, sembilan di antaranya mengandung mutasi D614G.
Rinciannya, dua dari Surabaya, tiga dari Yogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung. Bahkan sebenarnya, sebelumnya ditemukan pertama kali di Jerman dan China pada Januari 2020.
Di sisi lain, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi tentang COVID-19, Prof Ali Ghufron Mukti, mengatakan, belum ada bukti mutasi D614G lebih infeksius atau lebih berbahaya. “Yang perlu mendapat perhatian adalah mutasi L18F yang memiliki akses antibodi,” tandasnya. (Baca juga: Rekor Positif Covid-19 di Kota Bogor, Sehari Bertambah 30 Orang dan 2 Meninggal )
Amin mengklaim, Indonesia telah mengirim 24 sampel virus genom atau whole genom sequencing (WGS) SARS-CoV-2 ke lembaga global GISAID. Dari 24 sampel virus genom tersebut, sembilan di antaranya mengandung mutasi D614G.
Rinciannya, dua dari Surabaya, tiga dari Yogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung. Bahkan sebenarnya, sebelumnya ditemukan pertama kali di Jerman dan China pada Januari 2020.
Di sisi lain, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi tentang COVID-19, Prof Ali Ghufron Mukti, mengatakan, belum ada bukti mutasi D614G lebih infeksius atau lebih berbahaya. “Yang perlu mendapat perhatian adalah mutasi L18F yang memiliki akses antibodi,” tandasnya. (Baca juga: Rekor Positif Covid-19 di Kota Bogor, Sehari Bertambah 30 Orang dan 2 Meninggal )
(iqb)
Lihat Juga :