NASA Deteksi Fenomena Tak Biasa di Antartika yang Mempengaruhi Cuaca di Dunia
Selasa, 22 Oktober 2024 - 14:40 WIB
Pada tanggal 22 Juli, suhu menurun dan naik hingga 17°C (31°F) pada tanggal 5 Agustus.
Ilmuwan atmosfer Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Lawrence Coy dan Paul Newman, terkejut menemukan pemanasan stratosfer yang tiba-tiba ini.
Coy dan Newman bekerja pada asimilasi data dan meneliti model atmosfer Bumi yang dibuat untuk Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global (GMAO) NASA.
“Peristiwa bulan Juli adalah pemanasan stratosfer paling awal yang pernah diamati dalam seluruh catatan GMAO selama 44 tahun,” kata Coy.
Para ilmuwan mengatakan bahwa angin barat, yang hadir di lapisan atmosfer ini, berputar melintasi Kutub Selatan di musim dingin dan membentuk apa yang disebut pusaran kutub.
Namun, aliran sirkumpolar simetris ini terganggu yang menyebabkan melemahnya angin dan aliran berubah bentuk.
Pusaran kutub tersebut, alih-alih beredar di Kutub Selatan, malah memanjang dan angin melemah, yang menyebabkan pemanasan stratosfer yang signifikan di Antartika.
Ilmuwan atmosfer Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA, Lawrence Coy dan Paul Newman, terkejut menemukan pemanasan stratosfer yang tiba-tiba ini.
Coy dan Newman bekerja pada asimilasi data dan meneliti model atmosfer Bumi yang dibuat untuk Kantor Pemodelan dan Asimilasi Global (GMAO) NASA.
“Peristiwa bulan Juli adalah pemanasan stratosfer paling awal yang pernah diamati dalam seluruh catatan GMAO selama 44 tahun,” kata Coy.
Para ilmuwan mengatakan bahwa angin barat, yang hadir di lapisan atmosfer ini, berputar melintasi Kutub Selatan di musim dingin dan membentuk apa yang disebut pusaran kutub.
Namun, aliran sirkumpolar simetris ini terganggu yang menyebabkan melemahnya angin dan aliran berubah bentuk.
Pusaran kutub tersebut, alih-alih beredar di Kutub Selatan, malah memanjang dan angin melemah, yang menyebabkan pemanasan stratosfer yang signifikan di Antartika.
Lihat Juga :