Google Tuduh Microsoft Gunakan Cloud untuk Kunci Pelanggan

Jum'at, 27 September 2024 - 07:47 WIB
Google merujuk pada studi yang dilakukan oleh CISPE (Cloud Infrastructure Services Providers in Europe) pada tahun 2023, yang menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa serta badan-badan publik membayar hingga 1 miliar euro (sekitar Rp16,9 triliun) per tahun dalam bentuk penalti lisensi dari Microsoft. Biaya tambahan ini menjadi beban berat bagi perusahaan-perusahaan yang berusaha tetap menjalankan produk Microsoft di luar Azure.

Pada bulan Juli lalu, Microsoft telah menyelesaikan kesepakatan antimonopoli senilai 20 juta euro dengan CISPE terkait praktik lisensi cloud mereka, yang mencegah penyelidikan lebih lanjut oleh Uni Eropa. Namun, kesepakatan ini tidak mencakup AWS, Google Cloud Platform, atau AliCloud, yang membuat kedua perusahaan tersebut merasa keberatan.

Seorang juru bicara Microsoft menyatakan bahwa mereka telah menyelesaikan kekhawatiran serupa dari penyedia cloud Eropa lainnya secara damai dan menegaskan bahwa Google tidak akan berhasil meyakinkan Komisi Eropa. "Setelah gagal meyakinkan perusahaan-perusahaan Eropa, kami berharap Google juga akan gagal meyakinkan Komisi Eropa," tegas pernyataan resmi Microsoft.

Dalam keluhannya, Google juga menuduh Microsoft telah menciptakan "vendor lock-in" dengan membatasi pilihan pelanggan dalam menggunakan produk mereka, termasuk aplikasi kolaborasi Microsoft Teams, meskipun banyak pelanggan lebih memilih produk alternatif. Ini adalah strategi yang menurut Google mirip dengan yang diterapkan Microsoft pada Azure.

Zavery mendesak regulator Eropa untuk segera mengambil tindakan. "Waktunya bertindak adalah sekarang. Jika tidak, pasar cloud akan semakin terbatas dan membatasi pilihan bagi pelanggan," ujarnya.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!