Apakah Hajar Aswad Batu Meteorit dari Luar Angkasa?
Kamis, 06 Juni 2024 - 06:22 WIB
Misteri Hajar Aswad hingga kini masih belum terpecahkan. (Foto: Steemit)
JAKARTA - Misteri Hajar Aswad hingga kini masih belum terpecahkan. Asal usulnya secara ilmiah masih diperdebatkan. Sebagian kalangan menyebut Hajar Aswad adalah batu meteorit, namun pihak lain menyanggahnya. Ada yang menyebutnya batu basal, akik, hingga sepotong kaca alam. Yang jelas, umat Islam meyakini Hajar Aswad adalah batu dari surga.
Ada sejumlah versi tentang asal mulanya. Disebutkan batu hajar aswad telah ada sejak zaman Nabi Adam. Versi lainnya menyebutkan batu batu hitam yang bentuknya tidak beraturan ini muncul di era Nabi Ibrahim saat membangun Kakbah. Warna asalnya disebutkan putih seperti susu namun seiring berjalannya waktu berubah menjadi hitam lantaran dosa-dosa manusia.
Laman Steemit, Kamis (6/6/2024) melansir, sejak dahulu kala, Hajar Aswad menjadi bahan penelitian ilmiah para ilmuwan dan pencinta sejarah. Studi tentang Hajar Aswad dalam catatan sejarah muncul dari literatur Barat pada abad ke-19. Ancient-Origins mencatat penjelajah Swiss Johann Ludwig Burckhardt pada tahun 1814 mengunjungi Makkah dan kemudian memberikan deskripsi rinci tentang batu suci tersebut dalam bukunya, Travels in Arabia yang diterbitkan pada tahun 1829.
Dalam catatannya, Burckhardt menggambarkan Hajar Aswad yang berbentuk oval tidak beraturan, dengan diameter tujuh inci dan permukaan yang tidak rata. Penjelajah tersebut menulis Hajar Aswad terdiri dari berbagai potongan kecil batu yang disatukan dengan sangat halus.
Ada sejumlah versi tentang asal mulanya. Disebutkan batu hajar aswad telah ada sejak zaman Nabi Adam. Versi lainnya menyebutkan batu batu hitam yang bentuknya tidak beraturan ini muncul di era Nabi Ibrahim saat membangun Kakbah. Warna asalnya disebutkan putih seperti susu namun seiring berjalannya waktu berubah menjadi hitam lantaran dosa-dosa manusia.
Laman Steemit, Kamis (6/6/2024) melansir, sejak dahulu kala, Hajar Aswad menjadi bahan penelitian ilmiah para ilmuwan dan pencinta sejarah. Studi tentang Hajar Aswad dalam catatan sejarah muncul dari literatur Barat pada abad ke-19. Ancient-Origins mencatat penjelajah Swiss Johann Ludwig Burckhardt pada tahun 1814 mengunjungi Makkah dan kemudian memberikan deskripsi rinci tentang batu suci tersebut dalam bukunya, Travels in Arabia yang diterbitkan pada tahun 1829.
Dalam catatannya, Burckhardt menggambarkan Hajar Aswad yang berbentuk oval tidak beraturan, dengan diameter tujuh inci dan permukaan yang tidak rata. Penjelajah tersebut menulis Hajar Aswad terdiri dari berbagai potongan kecil batu yang disatukan dengan sangat halus.
Lihat Juga :