Ilmuwan Temukan Bukti Gurun Sahara Berubah Menjadi Tanah Hijau Subur Setiap 21.000 Tahun
Selasa, 26 Desember 2023 - 15:26 WIB
Para ilmuwan memelopori penelitian tentang penghijauan Gurun Sahara, menunjukkan bahwa periode lembap di Afrika Utara yang telah terjadi selama 800.000 tahun terakhir. Fakta ini menurut ilmuwan Universitas Briston menjelaskan mengapa wilayah kering Gurun Sahara secara berkala berwarna hijau.
“Fase basah periodik ini dilaporkan disebabkan oleh perubahan orbit Bumi mengelilingi Matahari, namun hal ini terhenti selama zaman es ribuan tahun yang lalu,” keterangan ilmuwan Universitas Briston dikutip SINDOnews dari laman natureworldnews, Selasa (26/12/2023).
Ada juga bukti lain tentang Sahara Hijau kuno berdasarkan laporan penemuan pahatan dan lukisan batu kuno di Gurun Sahara. Di dalamnya menunjukkan lanskap tersebut pernah dihuni oleh hewan-hewan yang hidup di air seperti kuda nil, buaya, dan kura-kura.
Studi tahun 2023 berjudul 'Periode lembab Afrika Utara selama 800.000 tahun terakhir' yang menyoroti masa lalu kuno Gurun Sahara diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada bulan September. Para peneliti menggambarkan Periode Lembab Afrika Utara (NAHPs) dikaitkan dengan astronomi melalui presesi yang mengontrol intensitas sistem monsun Afrika.
Baca juga; Inggris akan Terkena Hujan Darah Lagi karena Debu Gurun Sahara
“Fase basah periodik ini dilaporkan disebabkan oleh perubahan orbit Bumi mengelilingi Matahari, namun hal ini terhenti selama zaman es ribuan tahun yang lalu,” keterangan ilmuwan Universitas Briston dikutip SINDOnews dari laman natureworldnews, Selasa (26/12/2023).
Ada juga bukti lain tentang Sahara Hijau kuno berdasarkan laporan penemuan pahatan dan lukisan batu kuno di Gurun Sahara. Di dalamnya menunjukkan lanskap tersebut pernah dihuni oleh hewan-hewan yang hidup di air seperti kuda nil, buaya, dan kura-kura.
Studi tahun 2023 berjudul 'Periode lembab Afrika Utara selama 800.000 tahun terakhir' yang menyoroti masa lalu kuno Gurun Sahara diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada bulan September. Para peneliti menggambarkan Periode Lembab Afrika Utara (NAHPs) dikaitkan dengan astronomi melalui presesi yang mengontrol intensitas sistem monsun Afrika.
Baca juga; Inggris akan Terkena Hujan Darah Lagi karena Debu Gurun Sahara
Lihat Juga :