Ini Tempat Paling Dingin di Alam Semesta, Minus 272 Derajat Celsius
Jum'at, 22 Desember 2023 - 23:11 WIB
Namun, ada satu objek di alam semesta yang kita ketahui dapat mendinginkan wilayah luar angkasa bahkan lebih dingin dari suhu CMB. Tempat paling dingin di alam semesta, sebuah nebula planet muda yang disebut Nebula Boomerang, memiliki suhu -457,87 derajat Fahrenheit (-272,15 derajat Celsius).
"Suhu terendah di Nebula Boomerang hanya beberapa persepuluh derajat di atas nol mutlak," kata peneliti California Institute of Technology (Caltech) dan ilmuwan Jet Propulsion NASA Raghvendra Sahai.
Tetapi Sahai, yang mempelajari lahir dan matinya bintang dan telah menjadi bagian integral dalam penelitian nebula ini, menunjukkan Nebula Boomerang tidak hanya terkenal karena suhu superdinginnya.
"Selain menjadi satu-satunya objek di alam semesta yang kita ketahui sejauh ini berada pada suhu di bawah suhu CMB, ini juga merupakan contoh buku teks dari jenis interaksi biner antara bintang yang disebut Common Envelope Evolution," kata Sahai.
Baca Juga: 10 Kota Terdingin di Dunia, Nomor 8 Disebut Kotak Es
Memahami interaksi biner seperti itu, kata dia, adalah 'holy grail' astronomi bintang abad ke-21, karena interaksi ini diyakini menjadi penyebab berbagai fenomena ledakan di bintang, termasuk supernova dan emisi gelombang gravitasi.
"Suhu terendah di Nebula Boomerang hanya beberapa persepuluh derajat di atas nol mutlak," kata peneliti California Institute of Technology (Caltech) dan ilmuwan Jet Propulsion NASA Raghvendra Sahai.
Tetapi Sahai, yang mempelajari lahir dan matinya bintang dan telah menjadi bagian integral dalam penelitian nebula ini, menunjukkan Nebula Boomerang tidak hanya terkenal karena suhu superdinginnya.
"Selain menjadi satu-satunya objek di alam semesta yang kita ketahui sejauh ini berada pada suhu di bawah suhu CMB, ini juga merupakan contoh buku teks dari jenis interaksi biner antara bintang yang disebut Common Envelope Evolution," kata Sahai.
Baca Juga: 10 Kota Terdingin di Dunia, Nomor 8 Disebut Kotak Es
Memahami interaksi biner seperti itu, kata dia, adalah 'holy grail' astronomi bintang abad ke-21, karena interaksi ini diyakini menjadi penyebab berbagai fenomena ledakan di bintang, termasuk supernova dan emisi gelombang gravitasi.
Lihat Juga :