Twitter Tertarik Beli TikTok

Senin, 10 Agustus 2020 - 06:45 WIB
Aplikasi itu sebenarnya bermula dari tiga aplikasi berbeda. Yang pertama adalah aplikasi AS bernama Musical.ly, yang diluncurkan pada 2014 dan memiliki sejumlah pengikut yang jumlahnya “sehat” di negara itu. Pada 2016, raksasa teknologi China ByteDance meluncurkan layanan serupa di China yang disebut Douyin.

Aplikasi itu menarik 100 juta pengguna di China dan Thailand dalam kurun waktu setahun. ByteDance melihat prospek yang cerah dan ingin memperluas bisnis dengan merek yang berbeda, jadilah TikTok. Lalu pada 2018, perusahaan itu membeli Musical.ly dan memulai ekspansi global TikTok.

TikTok memiliki kelebihan pada penggunaan musik dan algoritma yang luar biasa kuat, yang mempelajari apa yang disukai pengguna jauh lebih cepat daripada banyak aplikasi lain. Pengguna dapat memilih dari basis data lagu yang besar, filter, dan klip film untuk melakukan lipsync.

Banyak orang akan menghabiskan sebagian besar waktunya di laman 'For You'. Di sinilah algoritma menawarkan konten bagi pengguna, mengantisipasi apa yang akan mereka nikmati berdasarkan konten yang telah mereka saksikan. (Baca juga: Jet Tempur Patungan korsel-Indonesia Akan Gunakan radar Array)

Pada Juli lalu, TikTok sudah memiliki satu miliar pengunduh di seluruh dunia, di mana 500 juta di antaranya pengguna aktif. Setahun kemudian, mereka memiliki dua miliar pengunduh dan sekitar 800 juta pengguna aktif. Di tengah kesuksesan TikTok, India dan AS justru khawatir aplikasi video pendek itu mengumpulkan data sensitif dari pengguna yang dapat digunakan oleh pemerintah China untuk aktivitas mata-mata.

Setiap perusahaan besar China dituding memiliki "sel" internal yang bertanggung jawab kepada Partai Komunis China yang berkuasa, dengan banyak agennya yang bertugas mengumpulkan rahasia.

Namun, kekhawatiran tidak hanya tentang data apa yang dikumpulkan, tetapi juga lebih teoretis, di mana banyak kalangan memperkirakan apakah pemerintah China bisa memaksa ByteDance untuk menyerahkan data. Undang-Undang Keamanan Nasional 2017 di China memaksa setiap organisasi atau warga negara untuk "mendukung, membantu, dan bekerja sama dengan pekerjaan intelijen negara".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!