Ilmuwan Siap Hadirkan Minyak Wangi yang Biasa Dipakai Raja Firaun
Jum'at, 27 Oktober 2023 - 19:29 WIB
“Kami hanya mengambilsisa-sisa, serpihan dan jejak-jejak kecil, balsam mumifikasi, zat-zat yang dioleskan ke tubuhnya untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Kami mengambil sampel toples-toples kanopik ini, kemudian menganalisis balsem mumifikasi. Dan berdasarkan komposisi molekulernya, kita bisa mengidentifikasi aroma kuno keabadian atau kehidupan setelah kematian." tutur Ketua tim peneliti dari Max Planck, Barbara Huber seperti dilansir dari VOA.
Meneliti komposisi molekulernya, tim mendapati bahwa balsem itu mengandung campuran kompleks lilin lebah, minyak nabati, lemak, resin, zat balsamik, dan banyak lagi.
Menurut para pakar, campuran bahan-bahan itu tidak hanya memberi pemahaman baru tentang proses mumifikasi, tetapi juga jalur perdagangan Mesir yang luas ketika itu.
"Kami mendapati dalam hal ini ada tanaman dari Eropa Tengah. Kami mendapati tanaman dari Asia Tenggara. Ada pula tanaman dari daerah Laut Tengah. Mungkin tanaman yang ada di Mesir, sesuatu yang tersedia secara lokal, seperti lilin lebah. Dan semua itu dicampur dalam balsem mumifikasi ini. Ini menunjukkan kepada kita seberapa besar atau seberapa terhubungnya masyarakat Mesir kuno pada pertengahan milenium kedua,” lanjut Huber.
Sebagian zat itu lebih sulit dikenali. Huber dan timnya percaya zat itu antara lain adalah resin dari pohon damar yang hanya tumbuh di Asia Tenggara. Jika benar, ini akan memperluas pengaruh Mesir kuno hingga 4.000 kilometer.
Meneliti komposisi molekulernya, tim mendapati bahwa balsem itu mengandung campuran kompleks lilin lebah, minyak nabati, lemak, resin, zat balsamik, dan banyak lagi.
Menurut para pakar, campuran bahan-bahan itu tidak hanya memberi pemahaman baru tentang proses mumifikasi, tetapi juga jalur perdagangan Mesir yang luas ketika itu.
"Kami mendapati dalam hal ini ada tanaman dari Eropa Tengah. Kami mendapati tanaman dari Asia Tenggara. Ada pula tanaman dari daerah Laut Tengah. Mungkin tanaman yang ada di Mesir, sesuatu yang tersedia secara lokal, seperti lilin lebah. Dan semua itu dicampur dalam balsem mumifikasi ini. Ini menunjukkan kepada kita seberapa besar atau seberapa terhubungnya masyarakat Mesir kuno pada pertengahan milenium kedua,” lanjut Huber.
Sebagian zat itu lebih sulit dikenali. Huber dan timnya percaya zat itu antara lain adalah resin dari pohon damar yang hanya tumbuh di Asia Tenggara. Jika benar, ini akan memperluas pengaruh Mesir kuno hingga 4.000 kilometer.
(wbs)
Lihat Juga :