Bagaimana Astronot Muslim Berpuasa Ramadan di Luar Angkasa? Ini Kisah Menariknya
Jum'at, 24 Maret 2023 - 18:00 WIB
Baca juga; Astronot UEA Sultan Al-Neyadi akan Jalani Puasa Ramadan di Luar Angkasa
Namun, dia tidak berpuasa saat menjalankan misi ke luar angkasa yang bertepatan dengan bulan Ramadan. “Islam sangat lunak. Jika saya tidak bisa berpuasa di luar angkasa, saya selalu bisa kembali dan melakukannya di lain waktu,” kata Mr Shukor beberapa minggu sebelum peluncurannya.
Dilaporkan dia juga merayakan Idul Fitri di luar angkasa untuk rekan-rekannya. Dia membawa beberapa sate Malaysia, atau tusuk sate potongan daging pedas, dan kue kering bersamanya.
Astronot UEA Sultan Al Neyadi selama Ramadan di luar angkasa kemungkinan tidak akan berpuasa dengan alasan kesehatan dan keselamatan misi jangka panjang. “Saya dalam definisi seorang musafir, dan kita sebenarnya bisa berbuka puasa dan itu tidak wajib,” ujarnya dikutip SINDOnews dari laman thenationalnews, Jumat (24/3/2023).
Dia mengatakan bahwa jika mendapat kesempatan, dia akan menjalankan puasa beberapa hari, dan akan berbagi makanan dengan rekan-rekannya di ISS. “Selama enam bulan, kita akan melewati saat-saat yang sangat menyenangkan seperti Idul Fitri dan Ramadan,” katanya.
Untuk puasa dan salat di luar angkasa, para astronot dapat mengikuti zona waktu yang digunakan di stasiun luar angkasa, yaitu UTC atau yang disebut juga GMT. Bahkan, astronot Muslim dapat mengikuti waktu Makkah.
Namun, dia tidak berpuasa saat menjalankan misi ke luar angkasa yang bertepatan dengan bulan Ramadan. “Islam sangat lunak. Jika saya tidak bisa berpuasa di luar angkasa, saya selalu bisa kembali dan melakukannya di lain waktu,” kata Mr Shukor beberapa minggu sebelum peluncurannya.
Dilaporkan dia juga merayakan Idul Fitri di luar angkasa untuk rekan-rekannya. Dia membawa beberapa sate Malaysia, atau tusuk sate potongan daging pedas, dan kue kering bersamanya.
Astronot UEA Sultan Al Neyadi selama Ramadan di luar angkasa kemungkinan tidak akan berpuasa dengan alasan kesehatan dan keselamatan misi jangka panjang. “Saya dalam definisi seorang musafir, dan kita sebenarnya bisa berbuka puasa dan itu tidak wajib,” ujarnya dikutip SINDOnews dari laman thenationalnews, Jumat (24/3/2023).
Dia mengatakan bahwa jika mendapat kesempatan, dia akan menjalankan puasa beberapa hari, dan akan berbagi makanan dengan rekan-rekannya di ISS. “Selama enam bulan, kita akan melewati saat-saat yang sangat menyenangkan seperti Idul Fitri dan Ramadan,” katanya.
Untuk puasa dan salat di luar angkasa, para astronot dapat mengikuti zona waktu yang digunakan di stasiun luar angkasa, yaitu UTC atau yang disebut juga GMT. Bahkan, astronot Muslim dapat mengikuti waktu Makkah.
(wib)
Lihat Juga :