Pemerintah diminta lindungi industri telekomunikasi

Rabu, 26 Februari 2014 - 11:14 WIB
Pemerintah diminta lindungi...
Pemerintah diminta lindungi industri telekomunikasi
A A A
Sindonews.com - Pakar telekomunikasi dari ITB, Agung Harsoyo mengatakan, pemerintah harus melindungi industri telekomunikasi dalam negeri.

Karena, kata dia industri ini sangat strategis. "Sangat tidak fair jika ada penyadapan yang disalahkan operator, mestinya negara yang bertanggung jawab terhadap sistem keamanan komunikasi nasional. Karena domain sadap menyadap merupakan domainnya pemerintah," ujar dia, Rabu (26/2/2014).

Agung mencontohkan, kasus penyadapan yang menimpa Kanselir Jerman Angela Merkel oleh AS. Kantor Federal untuk Keamanan Informasi Jerman telah mengembangkan sendiri software antisadap.

Nantinya, para politikus dan pejabat tinggi Jerman hanya boleh memakai ponsel yang ditanami software antisadap. Software ini bahkan tak bisa berjalan di iPhone atau perangkat dengan sistem operasi iOS.

Dia menilai, kasus penyadapan yang dilakukan Amerika dan Australia membuktikan lemahnya sistem keamanan nasional Indonesia di bidang teknologi informasi (TI).

Menurutnya, Indonesia seharusnya memiliki badan atau angkatan keempat, Cyber War, setelah Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Udara. Seperti halnya Amerika Serikat yang memiliki lima angkatan pertahanan, darat, udara, laut, antariksa, dan Cyber War, salah satu badan keamanan tersebut adalah National Security Agency (NSA).

Angkatan ke lima ini didoktrin untuk melakukan "perang" terhadap berbagai ancaman cyber. Kegiatan yang mereka lakukan seperti penyadapan dan pengamanan. Penyadapan NSA meliputi telepon, komunikasi internet, komunikasi radio, serta komunikasi-komunikasi lainnya yang bisa disadap.

"Pengamanan NSA meliputi komunikasi militer, diplomatik, serta komunikasi-komunikasi rahasia atau sensitif pemerintah. Lembaga ini memang dibentuk khusus untuk masalah ini," ujar Agung.

Sayangnya, kata dia, pemerintahan Indonesia tidak melihat persoalan cyber menjadi persoalan yang strategis. Padahal, ke depannya perang bukan semata-mata perang adu senjata, melainkan perang cyber. Bagaimana sebuah negara bisa menguasai dan mengetahui sistem informasi dan komunikasi negara lain.
(izz)
Berita Terkait
Jangkau Semua Wilayah...
Jangkau Semua Wilayah di Indonesia, SPL dan Protelindo Siapkan Teknologi HAPS
Edgepoint Bangun 15.000...
Edgepoint Bangun 15.000 Menara Telekomunikasi di Malaysia, Indonesia, Filipina
Hampir 100% Operasional...
Hampir 100% Operasional Telkomsel Dikendalikan dari Rumah
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel...
HUT ke-25 Tahun, Telkomsel Melayani Masyarakat untuk Kemajuan Indonesia
Kualitas Infrastruktur...
Kualitas Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi selama Mudik 2023 Terjaga
Tawarkan Layanan Data...
Tawarkan Layanan Data 'Bebas Khawatir', Benarkah akan Ada Operator Baru?
Berita Terkini
Bukan Cuma Otomatisasi,...
Bukan Cuma Otomatisasi, Fitur AI Mekari Talenta Dorong HR Jadi Mitra Strategis Bisnis
1 hari yang lalu
Lewat Forum CorpU Association...
Lewat Forum CorpU Association Insight, Telkom Percepat Transformasi Talenta
1 hari yang lalu
Uni Eropa Perintahkan...
Uni Eropa Perintahkan Google Membuka Fitur AI Android
2 hari yang lalu
Perkuat Jaringan di...
Perkuat Jaringan di Jatim, XLSMART Perluas 5G Blanket Coverage di 8 Kabupaten/Kota
3 hari yang lalu
Orang Kaya Misterius...
Orang Kaya Misterius Membeli Fosil Dinosaurus
4 hari yang lalu
5 Rekomendasi Laptop...
5 Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Kerja Kantoran di Tahun 2026
4 hari yang lalu
Infografis
Pangeran William Lindungi...
Pangeran William Lindungi Putri Charlotte Agar Tak Bernasib seperti Harry
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved