Matikan Internet untuk Redam Protes, India Kehilangan Rp4,8 Miliar Per Jam

Sabtu, 28 Desember 2019 - 20:00 WIB
Matikan Internet untuk...
Matikan Internet untuk Redam Protes, India Kehilangan Rp4,8 Miliar Per Jam
A A A
NEW DELHI - Pemerintah India telah menghadapi protes skala luas di seluruh negeri sejak Undang-Undang Kewarganegaraan baru yang mendiskriminasi Muslim mendapat persetujuan Kongres.

Ingin meredam protes, Pemerintah India telah menutup layanan internet di beberapa kota di seluruh negeri untuk periode waktu yang bervariasi dalam tiga pekan terakhir. "Shutdown" ini jelas merugikan perusahaan telekomunikasi dan bisnis, menurut laporan Reuters yang dilansir laman Giz China.

Seringnya penutupan internet ini terjadi setelah layanan internet di Kashmir, India, ditangguhkan selama lebih dari 140 hari sejak New Delhi menurunkan statusnya ke wilayah yang dikelola federal dari sebuah daerah otonom. Kelompok hak digital Access Now, menilai, keputusan tersebut bisa jadi sebagai penghentian internet terpanjang dalam sejarah demokrasi.

Kebanyakan orang India bergantung pada smartphone mereka untuk mengakses internet, tidak seperti negara maju lainnya. Ponsel cerdas dan data seluler telah terjangkau di India sejak debut Reliance Jio, vendor telekomunikasi yang dimiliki oleh Mukesh Ambani, orang terkaya di negara itu.

Oleh karena itu, rakyat India mengonsumsi rata-rata data seluler 9,8 GB per bulan. Sehingga menjanjikannya sebagai yang tertinggi di dunia, seperti yang dilaporkan oleh Ericsson. India juga tercatat sebagai pasar terbesar untuk aplikasi media sosial, seperti Facebook dan anak perusahaannya, WhatsApp messenger.

"Ini seharusnya tidak menjadi tindakan pertama," respons Asosiasi Operasi Seluler India (COAI) yang mencakup anggota seperti Bharti Airtel, Vodafone India, dan Reliance Jio.

Rajan Mathews, Direktur Jenderal COAI, mengatakan kepada Reuters, menurut perhitungan, pada akhir 2019, dengan peningkatan aktivitas online, COAI meyakini kerugian penutupan internet hampir Rp4,8 miliar per jam.

Jumlah kerugian yang ditanggung oleh perusahaan telekomunikasi sangat banyak. Karena mereka belum membayar fee gabungan senilai USD13 miliar untuk pembayaran yang tertunda saat diakumulasikan sepanjang tahun.
(mim)
Berita Terkait
Sosialisasikan COVID-19,...
Sosialisasikan COVID-19, Pengelola Apartemen Manfaatkan Jaringan TV Lokal
Pabrik Mulai Berproduksi,...
Pabrik Mulai Berproduksi, VW Ubah Logo seperti Game PacMan
Ide Ini Belum Dipikirkan...
Ide Ini Belum Dipikirkan Merek Lain, Hyundai Bangun Mobil dengan Empat Kaki
GIIAS 2021, AFL Goda...
GIIAS 2021, AFL Goda Pengunjung dengan Beragam Promo Menarik
Pura Trans dan Hino...
Pura Trans dan Hino Latih Smart Driving untuk Para Sopir
Berkat Kerja Keras Tim,...
Berkat Kerja Keras Tim, CentrePark Raih Penghargaan Wajib Pajak Terbaik
Berita Terkini
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
19 jam yang lalu
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
21 jam yang lalu
Kehilangan Kendali,...
Kehilangan Kendali, Anthropic Usulkan Hentikan Sementara Pengembangan AI
21 jam yang lalu
Respons Permintaan Tinggi,...
Respons Permintaan Tinggi, Telkom Akselerasi Ekspansi Kapasitas NeutraDC Batam
21 jam yang lalu
Luncurkan AIcosystem,...
Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor Industri
21 jam yang lalu
Jalan Pintas Nostalgia:...
Jalan Pintas Nostalgia: Ragnarok Buka Server EDDGA, Naik Level Kini Sekejap Mata
22 jam yang lalu
Infografis
India Gunakan S-400...
India Gunakan S-400 Rusia dan Drone Israel untuk Lawan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved