Khawatir Pencurian Data, Google Matikan Layanan Penguatan Sinyal

Selasa, 20 Agustus 2019 - 09:00 WIB
Khawatir Pencurian Data,...
Khawatir Pencurian Data, Google Matikan Layanan Penguatan Sinyal
A A A
BEIJING - Google telah menutup layanan yang ditujukan untuk membantu operator di seluruh dunia meningkatkan jangkauannya dengan cara menyediakan data agregat dari perangkat Android kepada mereka. Penutupan ini muncul pada saat kekhawatiran meningkat tentang privasi data di seluruh industri.

Layanan Wawasan Jaringan Seluler Google diluncurkan pada 2017 lalu sebagai alat gratis untuk penyedia nirkabel di seluruh dunia guna memungkinkan mereka melihat titik-titik lemah dalam jangkauan jaringannya. Menurut laporan terbaru yang dirilis Reuters, layanan itu "pada dasarnya peta yang menunjukkan kekuatan sinyal operator dan kecepatan koneksi yang mereka berikan di setiap daerah".

Laman GSM Arena meyebutkan, data yang Anda bagikan oleh Google dikumpulkan dan dianonimkan. Artinya operator tidak mendapatkan informasi tentang pengguna individu, tapi fitur tersebut masih merupakan alat yang berharga bagi penyedia jaringan.

Sebab mereka dapat melihat statistik tentang kinerja jaringan mereka di berbagai wilayah. Platform ini juga menampilkan statistik yang berkaitan dengan layanan pesaing, yang tidak diidentifikasi namanya.

Data untuk Wawasan Jaringan Seluler Google bersumber dari perangkat yang menjalankan Android yang totalnya mencapai sekitar 75% dari smartphone dunia, tapi terbatas hanya untuk pengguna yang memiliki "Berbagi Riwayat Lokasi" dan penggunaan, serta diagnostik yang diaktifkan di akun Google-nya. Meskipun demikian, Google memilih untuk menghentikan layanan pada bulan April, tanpa mengutip alasan formal di balik keputusan tersebut. Operator di seluruh dunia hanya diberitahu tentang penutupan.

Seorang juru bicara Google telah mengonfirmasi untuk Reuters bahwa layanan ini sekarang memang dihentikan. Perubahan "prioritas produk" adalah faktor pendorong utama di balik keputusan tersebut. Namun orang-orang yang mengetahui keputusan tersebut mengklaim langkah Google dimotivasi oleh "kekhawatiran tentang privasi data" dan mungkin untuk menghindari pengawasan lebih lanjut dari anggota parlemen.
(mim)
Berita Terkait
Peretasan Data Marak,...
Peretasan Data Marak, Pengamat Desak RUU PDP Segera Tuntas
Perlindungan Data Jadi...
Perlindungan Data Jadi Isu Keamanan Utama Pebisnis di Asia Tenggara
Telkomsel Tegaskan Jaminan...
Telkomsel Tegaskan Jaminan Keamanan Data Milik Pelanggan
Singgung Data Pribadi,...
Singgung Data Pribadi, DPR Dorong Indonesia Punya Cyber Army
Kebocoran Data di Era...
Kebocoran Data di Era Digital, Seberapa Bahaya?
Data 267 Juta Akun Facebook...
Data 267 Juta Akun Facebook Dijual Murah, Hanya Rp9,2 Juta
Berita Terkini
Nvidia RTX Spark: Superkomputer...
Nvidia RTX Spark: Superkomputer Kemasan Sachet, Bikin Intel dan AMD Keringat Dingin
4 jam yang lalu
Korea Selatan Kembangkan...
Korea Selatan Kembangkan Teknologi Mesin Metana untuk Roket Luar Angkasa
5 jam yang lalu
Meta Luncurkan Agen...
Meta Luncurkan Agen Bisnis di WhatsApp, Instagram, dan Messenger
9 jam yang lalu
Heboh Grab Dikabarkan...
Heboh Grab Dikabarkan Kabur Gara-Gara Aturan Baru, CEO Neneng Buka Suara
10 jam yang lalu
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
11 jam yang lalu
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
11 jam yang lalu
Infografis
Angka Kemiskinan Indonesia...
Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved