Inovasi BMKG, Melayani untuk Membangun Negeri
Jum'at, 29 Maret 2019 - 14:01 WIB
Inovasi BMKG, Melayani untuk Membangun Negeri
A
A
A
JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai wilayah yang rawan bencana, terutama gempa bumi dan tsunami. Penyebabnya adalah posisi Indonesia dikepung oleh tiga lempeng tektonik dunia yakni Lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Lempeng Pasific. Pergerakan ketiga lempeng tektonik itu melepaskan energi dalam bentuk gempa jika melebihi ambang batas tertentu.
Selain itu, Indonesia juga berada pada Pacific Ring Of Fire (cincin api Pasifik) yaitu atau jalur rangkaia ngunung api aktif di dunia yang membentang sepanjang lempeng pasifik. Posisi ini menjadi penyebab terjadinya gempa. Bahkan zona ini berkontribusi hampir 90% terjadinya gempa di bumi dengan skala besar.
Tidak hanya itu, perubahan iklim ekstrem juga mengancam kita, tidak hanya Indonesia tapi juga dunia. Perubahan iklim memicu berbagai petaka seperti banjir, kekeringan, longsor, gelombang tinggi, dan peningkatanmuka air laut. Bencana alam tersebut dapat menimbulkan korban jiwa serta kerugian ekonomi dan ekologi yang tidak sedikit.
Dampak lanjutan yang juga tidak bisa dipandang sepele seperti merebaknya berbagai penyakit yang berujung pada kematian. Oleh karena itu, perlu upaya mitigasi bersama untuk mencegah dampak negatif akibat perubahan iklim tersebut.
Namun demikian di balik dampak negatifnya, perubahan iklim jika dikelola dengan baik menyimpan potensi yang dapat dikelola menjadi faktor yang mendukung pembangunan, seperti dalam mendukung ketahanan pangan, keselamatan transportasi dan pembangunan ekonomi.
![Inovasi BMKG, Melayani untuk Membangun Negeri]()
Terkait perubahan iklim ini Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan perubahan iklim yang semakin meningkatkan frekuensi terjadinya bencana, terutama bencana hidrometeorologis. Oleh karena itu sangat penting upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut.
"Perubahan iklim ekstrem merupakan masalah yang dihadapi setiap negara tanpamemandang batas teritorial. Setiap negara pasti merasakan efek buruknya, sehingga diperlukan strategi agar dapat mengelolanya menjadi keunggulan atau manfaat," tuturnya di Jakarta, Sabtu (23/3/2019).
Tak heran, peringatan Hari Meteorologi Dunia tahun 2019 ini, secara internasional mengangkat tema "The Sun, the Earth, and the weather", yang kemudian diterjemahkan secara nasional menjadi "Matahari, Bumi, Cuaca untuk Keselamatan dan Kesejahteraan".
BMKG ingin terus mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. "Warga bisa ikut berperan dalam mitigasi dengan melakukan hal-hal yang tampaknya sederhana seperti mengurangi penggunaan sampah plastik, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, mulai beralih ke sarana transportasi umum, menghemat penggunaan listrik dan air dan menanam pohon. Hal-hal yang tampak sederhana secara akumulatif akan membawa dampak besar dalam upaya mencegah dampak buruk perubahan iklim," jelasnya.
Inovasi tanpa henti
Terkait mitigasi bencana, BMKG juga terus melakukan berbagai inovasi. Inovasi tersebut diharapkan mampu mencegah terjadinya korban jiwa, kerugian ekonomi dan ekologi.
Dimotori oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan, sejumlah inovasi mitigasi bencana tersebut adalah, pertama, DBKLIM, ini adalah sistem peringatan dini demam berdarah dengue berbasis iklim. Kedua, EQ-DECAY, yakni software peluruhan gempa bumi susulan melalui pendekatan statistik.
Ketiga adalah INARAISE, yakni integrasi radar mandiri. Sistem ini dapat menyatukan seluruh data radar cuaca BMKG di Indonesia. Keempat adalah Inasmis V1.0 atau Indonesia Seismic Microzonation Information System. Inasmis V1.0 ini berisi informasi analisis hasil hasil survey microzonasi di lapangan. Misalnya informasi mengenai tingkat bahaya gempa bumi di suatu wilayah berdasar nilai-nilai karakteristik tanah setempat.
Kelima yakni RESMM-8, aplikasi mengetahui cuaca menggunakan satelit Himawari-8 melalui aplikasi Telegram. Caranya mudah, unduh Telegram, lalu ketik @bmkgbot, dan pilih menu info cuaca. Aplikasi ini dipergunakan untuk pelayanan penerbangan, pelayaran, nelayan, pariwisata dan lain-lain.
Keenamyakni SIMOTERA, Sistem Monitoring TEC dan Radon, yaitu sistem untuk melihat tanda-tanda terjadinya gempa atau prekussor. Ketujuh yaitu Stripchart Digitizer, yakni program untuk mendigitalisasi grafik cuaca dengan resolusi tinggi, sehingga memungkinkan digitasi image yang sudah di-scan. Kedelapan, SEACLID/CORDEX-SEA, yaitu platform bagi ilmuwan di Asia Tenggara untuk saling berkolaborasi dan bekerjasama di bidang proyeksi perubahan iklim. [Atik]
Selain itu, Indonesia juga berada pada Pacific Ring Of Fire (cincin api Pasifik) yaitu atau jalur rangkaia ngunung api aktif di dunia yang membentang sepanjang lempeng pasifik. Posisi ini menjadi penyebab terjadinya gempa. Bahkan zona ini berkontribusi hampir 90% terjadinya gempa di bumi dengan skala besar.
Tidak hanya itu, perubahan iklim ekstrem juga mengancam kita, tidak hanya Indonesia tapi juga dunia. Perubahan iklim memicu berbagai petaka seperti banjir, kekeringan, longsor, gelombang tinggi, dan peningkatanmuka air laut. Bencana alam tersebut dapat menimbulkan korban jiwa serta kerugian ekonomi dan ekologi yang tidak sedikit.
Dampak lanjutan yang juga tidak bisa dipandang sepele seperti merebaknya berbagai penyakit yang berujung pada kematian. Oleh karena itu, perlu upaya mitigasi bersama untuk mencegah dampak negatif akibat perubahan iklim tersebut.
Namun demikian di balik dampak negatifnya, perubahan iklim jika dikelola dengan baik menyimpan potensi yang dapat dikelola menjadi faktor yang mendukung pembangunan, seperti dalam mendukung ketahanan pangan, keselamatan transportasi dan pembangunan ekonomi.

Terkait perubahan iklim ini Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan perubahan iklim yang semakin meningkatkan frekuensi terjadinya bencana, terutama bencana hidrometeorologis. Oleh karena itu sangat penting upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut.
"Perubahan iklim ekstrem merupakan masalah yang dihadapi setiap negara tanpamemandang batas teritorial. Setiap negara pasti merasakan efek buruknya, sehingga diperlukan strategi agar dapat mengelolanya menjadi keunggulan atau manfaat," tuturnya di Jakarta, Sabtu (23/3/2019).
Tak heran, peringatan Hari Meteorologi Dunia tahun 2019 ini, secara internasional mengangkat tema "The Sun, the Earth, and the weather", yang kemudian diterjemahkan secara nasional menjadi "Matahari, Bumi, Cuaca untuk Keselamatan dan Kesejahteraan".
BMKG ingin terus mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. "Warga bisa ikut berperan dalam mitigasi dengan melakukan hal-hal yang tampaknya sederhana seperti mengurangi penggunaan sampah plastik, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, mulai beralih ke sarana transportasi umum, menghemat penggunaan listrik dan air dan menanam pohon. Hal-hal yang tampak sederhana secara akumulatif akan membawa dampak besar dalam upaya mencegah dampak buruk perubahan iklim," jelasnya.
Inovasi tanpa henti
Terkait mitigasi bencana, BMKG juga terus melakukan berbagai inovasi. Inovasi tersebut diharapkan mampu mencegah terjadinya korban jiwa, kerugian ekonomi dan ekologi.
Dimotori oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan, sejumlah inovasi mitigasi bencana tersebut adalah, pertama, DBKLIM, ini adalah sistem peringatan dini demam berdarah dengue berbasis iklim. Kedua, EQ-DECAY, yakni software peluruhan gempa bumi susulan melalui pendekatan statistik.
Ketiga adalah INARAISE, yakni integrasi radar mandiri. Sistem ini dapat menyatukan seluruh data radar cuaca BMKG di Indonesia. Keempat adalah Inasmis V1.0 atau Indonesia Seismic Microzonation Information System. Inasmis V1.0 ini berisi informasi analisis hasil hasil survey microzonasi di lapangan. Misalnya informasi mengenai tingkat bahaya gempa bumi di suatu wilayah berdasar nilai-nilai karakteristik tanah setempat.
Kelima yakni RESMM-8, aplikasi mengetahui cuaca menggunakan satelit Himawari-8 melalui aplikasi Telegram. Caranya mudah, unduh Telegram, lalu ketik @bmkgbot, dan pilih menu info cuaca. Aplikasi ini dipergunakan untuk pelayanan penerbangan, pelayaran, nelayan, pariwisata dan lain-lain.
Keenamyakni SIMOTERA, Sistem Monitoring TEC dan Radon, yaitu sistem untuk melihat tanda-tanda terjadinya gempa atau prekussor. Ketujuh yaitu Stripchart Digitizer, yakni program untuk mendigitalisasi grafik cuaca dengan resolusi tinggi, sehingga memungkinkan digitasi image yang sudah di-scan. Kedelapan, SEACLID/CORDEX-SEA, yaitu platform bagi ilmuwan di Asia Tenggara untuk saling berkolaborasi dan bekerjasama di bidang proyeksi perubahan iklim. [Atik]
(akn)