Popok dan Mainan asal China Teridentifikasi Terbuat dari Limbah RS

Sabtu, 23 Maret 2019 - 11:39 WIB
Popok dan Mainan asal...
Popok dan Mainan asal China Teridentifikasi Terbuat dari Limbah RS
A A A
BEIJING - Beberapa produk asal China seperti popok bayi, mainan anak dan botol berdasarkan hasil investigasi media China dan riset ahli ternyata terbuat dari limbah pembalut wanita dan limbah rumah sakit.

Seperti dilansir dari theepochtimes, limbah medis tersebut disimpan di perusahaan Tiongkok, ungkap laporan tersebut media CCTV. Bahan itu diurai dan diubah menjadi plastik, dan kemudian dijual kembali ke perusahaan lain dengan harga murah. Pabrik seperti itu berlokasi di seluruh negeri, termasuk di provinsi Shandong, Henan, Hebei, dan Shaanxi.
Popok dan Mainan asal China Teridentifikasi Terbuat dari Limbah RS

Salah satu yang terungkap, Seorang pekerja di perusahaan Best Hygenic Products Ltd. mengatakan kepada reporter CCTV bahwa harga satu ton produk limbah sekitar USD600, sedangkan harga satu ton plastik yang memenuhi standar nasional Tiongkok sekitar USD1.200 . Pekerja itu mengatakan bahwa masalahnya adalah memenuhi harga yang diinginkan pelanggan.

Satu perusahaan yang membuat tas anyaman berkomentar bahwa mereka membuat 100.000 tas sehari dan menjualnya di seluruh China

China memiliki populasi yang menua. Pada tahun 2018, Cina memiliki 249 juta orang di atas usia 60. Dengan populasi yang menua datanglah permintaan akan produk inkontinensia.

Pada tahun 2018 saja, empat miliar produk inkontinensia dewasa dijual.

Tetapi beberapa perusahaan yang memproduksi produk-produk ini telah melakukan modifikasi untuk memotong biaya mereka, mengambil pelet plastik dari bahan yang terkontaminasi.

Perusahaan Produk Kesehatan Shandong Jindeli adalah salah satu perusahaan yang diungkapkan dalam laporan CCTV yang telah melakukan tindakan tersebut.

Seorang pekerja di sana menyatakan bahwa mereka sengaja tidak pernah membuat catatan pembelian pelet plastik bekas untuk menutupi jejak mereka.

Di fasilitas perusahaan manufaktur, tas berisi popok dan pembalut ditemukan menumpuk di lantai, penuh dengan lalat.

Popok dan pembalut yang sudah kotor sudah dipecah menjadi beberapa bagian untuk membuat popok baru, menurut laporan itu. Apa yang bisa diselamatkan dari limbah bernoda digunakan untuk membuat interior popok baru. Jamur, noda, dan debu bisa disembunyikan di dalam sana.

Di fasilitas perusahaan manufaktur, tas berisi popok dan pembalut ditemukan menumpuk di lantai, penuh dengan lalat.

Popok dan pembalut yang sudah kotor sudah dipecah menjadi beberapa bagian untuk membuat popok baru, menurut laporan itu. Apa yang bisa diselamatkan dari limbah bernoda digunakan untuk membuat interior popok baru. Jamur, noda, dan debu bisa disembunyikan di dalam sana.
(wbs)
Berita Terkait
KSTI 2025 Resmi Ditutup,...
KSTI 2025 Resmi Ditutup, 48 Peta Jalan Prioritas Riset Nasional Siap Digarap
Cetak Ahli Farmasi Baru,...
Cetak Ahli Farmasi Baru, Berbagi Inovasi Sains Diperkuat
Peneliti Virginia Temukan...
Peneliti Virginia Temukan Sumber Energi Terbarukan
Konsep Student Mobility...
Konsep Student Mobility Langkah Ilmiah Gabungkan Sains dan Budaya
Sajikan Sains dari Sudut...
Sajikan Sains dari Sudut Berbeda, SINDO Media Kunjungi Menristek
Ilmuwan Temukan Cara...
Ilmuwan Temukan Cara Uji Sampel Covid-19 Secara Massal
Berita Terkini
WhatsApp Menguji Fungsi...
WhatsApp Menguji Fungsi Fitur Lihat Sekali untuk Pesan
52 menit yang lalu
Acer Luncurkan Dua Kacamata...
Acer Luncurkan Dua Kacamata Pintar dengan Gambar Virtual 172 Inci
4 jam yang lalu
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AI Dilibatkan Langsung dalam Operasi Medis
7 jam yang lalu
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
10 jam yang lalu
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
1 hari yang lalu
Bangun Kedaulatan Digital,...
Bangun Kedaulatan Digital, Telkom Pertemukan Regulator dan Pemain Industri
2 hari yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved