Usai Blokir Facebook Dkk, China Klaim Akan Lepas Sensor Internet
Rabu, 22 November 2017 - 15:01 WIB
Usai Blokir Facebook Dkk, China Klaim Akan Lepas Sensor Internet
A
A
A
SHANGHAI - Setelah tak memberi celah sedikitpun terhadap sejumlah aplikasi media sosial dan pengiriman pesan asing, China mengklaim akan memperlonggar aturan sensor internetnya.
Seperti diketahui, Pemerintah China sudah memblokir Facebook dan aplikasi lainnya di bawah kepemilikan Mark Zuckerberg, seperti Instagram dan WhatsApp. Facebook terlarang sejak tahun 2009 dan WhatsApp dilarang beroperasi pada September lalu.
Pascakebijakan tersebut, Negara Tirai Bambu itu mengumumkan akan lebih terbuka dalam memberikan informasi untuk membantu masyarakat internasional dalam memahami China.
Diberitakan China Daily, Rabu (22/11/2014), yang mengutip seorang pejabat senior. “Kami akan lebih berpikiran terbuka untuk berbicara tentang kelemahan-kelemahan kami dengan tenang dan konflik dengan negara-negara lain dengan terus terang. Kami berusaha lebih terbuka,” janji Jiang Jianguo, Menteri Kantor Informasi Dewan Negara.
Jiang Jianguo mengatakan, China harus lebih percaya diri membahas pemikiran politiknya dan caranya menjalankan pemerintahan dan tidak menghindari isu-isu panas.
China sendiri memberlakukan pengawasan ketat atas media dan diseminasi informasi melalui internet melalui teknologi “Great Firewall”. Teknologi itu bertujuan membatasi situs web asing, sekaligus menindak penggunaan virtual private network atau jaringan koneksi privat melalui jaringan internet publik dengan cara sensor.
Dalam laporan pekan lalu, LSM Amerika Rumah Kebebasan meletakkan China pada peringkat paling bawah dalam kebebasan berinternet. Mereka menyebut sensor yang dilakukan Pemerintah China menarget kaum minoritas etnis, media, dan warga biasa.
Seperti diketahui, Pemerintah China sudah memblokir Facebook dan aplikasi lainnya di bawah kepemilikan Mark Zuckerberg, seperti Instagram dan WhatsApp. Facebook terlarang sejak tahun 2009 dan WhatsApp dilarang beroperasi pada September lalu.
Pascakebijakan tersebut, Negara Tirai Bambu itu mengumumkan akan lebih terbuka dalam memberikan informasi untuk membantu masyarakat internasional dalam memahami China.
Diberitakan China Daily, Rabu (22/11/2014), yang mengutip seorang pejabat senior. “Kami akan lebih berpikiran terbuka untuk berbicara tentang kelemahan-kelemahan kami dengan tenang dan konflik dengan negara-negara lain dengan terus terang. Kami berusaha lebih terbuka,” janji Jiang Jianguo, Menteri Kantor Informasi Dewan Negara.
Jiang Jianguo mengatakan, China harus lebih percaya diri membahas pemikiran politiknya dan caranya menjalankan pemerintahan dan tidak menghindari isu-isu panas.
China sendiri memberlakukan pengawasan ketat atas media dan diseminasi informasi melalui internet melalui teknologi “Great Firewall”. Teknologi itu bertujuan membatasi situs web asing, sekaligus menindak penggunaan virtual private network atau jaringan koneksi privat melalui jaringan internet publik dengan cara sensor.
Dalam laporan pekan lalu, LSM Amerika Rumah Kebebasan meletakkan China pada peringkat paling bawah dalam kebebasan berinternet. Mereka menyebut sensor yang dilakukan Pemerintah China menarget kaum minoritas etnis, media, dan warga biasa.
(mim)