Unik, Gurun Pasir di Chili Ini Jadi Tempat Sampah Terbesar Dunia dan Lokasi Penelitian Ilmiah

Selasa, 29 November 2022 - 07:00 WIB
loading...
Unik, Gurun Pasir di...
Gurun pasir Atacama menampung 46.000 ton sampah dari berbagai negara di dunia setiap tahunnya. Foto/IST
A A A
JAKARTA - Gurun pasir Atacama di Chili punya keunikan tersendiri karena jadi tempat sampah terbesar di dunia dan juga lokasi penelitian ilmiah untuk hidup di Mars. Sayangnya sampah yang jumlahnya semakin terus bertambah membuat upaya penelitian ilmiah semakin terancam.

Sampah yang dibuang di gurun pasir Atacama memang sangat besar jumlahnya. Setiap tahunnya ada lebih dari 46.000 ton sampah dikirim ke gurun pasir yang ada di antara Andes dan rangkaian pengunungan Chili.

Gurun pasir Atacama jadi tempat sampah terbesar di dunia sejak pemerintah Chili membuka keran impor produk fashion bekas ke negara mereka pada awal 2000-an. Saat itu sebanyak 59.000 ton pakaian dan produk-produk fashion bekas dikirim ke negara tersebut.

Sebanyak 13.000 ton bisa dijual kembali. Sisanya kini teronggok di gurun pasir Atacama. "Wilayah ini bukan hanya tempat sampah untuk masyarakat lokal, tapi juga tempat sampah dunia yang jauh lebih buruk buat kami," ujar Patricio Ferreira, walikota kota gurun Alto Hospicio.

Ironisnya sampah baju dan produk fashion lainnya tidak mudah terurai.Paulin Silva, aktivis lingkungan Chili mengatakan butuh waktu 200 tahun agar tumpukan sampah pakaian itu bisa terurai.

Baca juga : Ini Jawaban Para Sopir Soal Tulisan Lucu dan Menggelitik di Body Truk

Unik, Gurun Pasir di Chili Ini Jadi Tempat Sampah Terbesar Dunia dan Lokasi Penelitian Ilmiah


Sebelum hal itu terjadi sampah tersebut akan mencemari tanah, udara, dan air bawah tanah."Sampahnya sangat mudah terbakar dan membuat asap beracun," ujar Paulin Silva.

Kondisi itu justru sangat merugikan bagi penelitian ilmiah yang dilakukan di gurun pasir Atacama. Saat ini gurun pasir tersebut terpilih sebagai lokasi penelitian kehidupan di Mars karena kondisinya yang unik.

Gurun pasir Atacama dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia. Menariknya di tempat itu ada mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan yang keras.

Para ilmuwan yakin bahwa bentuk kehidupan ini dapat membantu mereka menemukan kehidupan di Mars, yang memiliki lanskap serupa. Bentuk kehidupan kecil ini telah berevolusi untuk beradaptasi dengan kekurangan air, tingkat radiasi matahari yang tinggi, dan hampir tidak ada nutrisi.

Baca juga : Teknologi Ini Bikin Oli Karya Anak Bangsa Punya Standar Internasional

Unik, Gurun Pasir di Chili Ini Jadi Tempat Sampah Terbesar Dunia dan Lokasi Penelitian Ilmiah


Bagi kebanyakan orang, kemampuan mereka untuk bertahan hidup mungkin tidak menarik, tetapi bagi para ilmuwan, bentuk kehidupan ini dapat menyimpan rahasia evolusi dan kelangsungan hidup di Bumi dan planet lain.

NASA menganggap lanskap Bumi distrik Yungay yang paling mirip dengan Mars dan menggunakannya untuk menguji kendaraan robotiknya. Pada 2017, badan antariksa Amerika itu menguji model awal penjelajah Perseverance, yang saat ini sedang mencari tanda-tanda kehidupan kuno di planet merah itu.

Karena bentang alamnya mirip dengan Mars, kemampuan pengeboran rover diuji di padang pasir untuk memastikan mereka bisa bekerja di planet Mars. Dan paparan UV di Atacama juga sangat cocok dengan apa yang dialami rover.

Sayangnya kondisi sampah yang semakin mengkhawatirkan justru berdampak besar pada kehidupan di padang pasir
(wsb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kenalkan Mikroskop...
AS Kenalkan Mikroskop dengan Resolusi Detail hingga yang Terkecil
NASA Temukan Batuan...
NASA Temukan Batuan Aneh Berbentuk Sisik Naga di Mars
Elon Musk Siap Bangun...
Elon Musk Siap Bangun Kota di Bulan dan Mars
Ilmuwan Klaim Planet...
Ilmuwan Klaim Planet Mars Dahulu Berwarna Biru Sebelum Jadi Merah
Kenapa Ilmuwan Lebih...
Kenapa Ilmuwan Lebih Pilih Menjelajahi Luar Angkasa Dibandingkan Lautan
Diterjang Badai Debu,...
Diterjang Badai Debu, Astronot Deteksi Petir di Mars
GenIUS Expo 2026 Dorong...
GenIUS Expo 2026 Dorong Siswa Kembangkan Potensi Diri melalui Karya dan Inovasi
Jelajahi 197 Negara,...
Jelajahi 197 Negara, Peneliti Temukan Kesederhanaan Jadi Kunci Kebahagiaan
Riset LAPI ITB: Konektivitas...
Riset LAPI ITB: Konektivitas Digital Dongkrak PDRB dan Serap 685 Ribu Tenaga Kerja
Rekomendasi
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Dina Masyusin Salurkan...
Dina Masyusin Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Rawa Buaya
Berita Terkini
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
SpaceX: IPO Terbesar...
SpaceX: IPO Terbesar Sejarah, Eforia Tercepat yang Menguap
LG Pasang Taruhan Besar:...
LG Pasang Taruhan Besar: AI Jadi Jantung Seisi Rumah
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved