Apple dan Google Didesak Hapus TikTok, Disebut Jadi Mata-mata China
Rabu, 29 Juni 2022 - 21:43 WIB
loading...
Komisaris FCC menuduh TikTok menyimpan data pribadi pengguna mereka di Amerika. Foto: ist
A
A
A
AMERIKA - Amerika agaknya terus berupaya mengusik produk dan layanan buatan China. Yang terbaru, TikTok . Ini setelah komisaris lembaga independen pemerintah AS Federal Communications Commission (FCC) Brendan Carr mendesak Apple dan Google untuk memblokir aplikasi TikTok. Alasannya, karena aplikasi asal China itu diduga memiliki akses ke data pengguna di Amerika Serikat.
” TikTok bukan sekadar aplikasi video. Itu hanya kamuflase. TikTok memanen data sensitif untuk diakses di Beijing. Saya minta Apple & Google untuk menghapus TikTok dari toko aplikasi mereka,” kata Brendan Carr dalam cuitan Twitter.
Pria yang berasal dari Partai Republik itu merujuk pada laporan terbaru terkait bocornya rekaman suara dari 80 pertemuan internal TikTok. Berdasarkan rekaman, diketahui bahwa karyawan induk TikTok, ByteDance dapat mengakses informasi pribadi pengguna.
Dikatakan bahwa semua informasi pribadi pengguna ada di China. Seorang direktur TikTok mengatakan dalam pertemuan lain bahwa karyawan yang berbasis di Beijing disebut sebagai “Master Admin” karena memiliki akses ke segalanya.
”Jelas bahwa TikTok menimbulkan risiko keamanan nasional yang tidak dapat diterima karena pengumpulan datanya yang ekstensif dikombinasikan dengan akses Beijing yang tampaknya tidak terkendali ke data sensitif,” ungkap Brendan Carr, dilansir dari Engadget, Rabu (29/6).
” TikTok bukan sekadar aplikasi video. Itu hanya kamuflase. TikTok memanen data sensitif untuk diakses di Beijing. Saya minta Apple & Google untuk menghapus TikTok dari toko aplikasi mereka,” kata Brendan Carr dalam cuitan Twitter.
Pria yang berasal dari Partai Republik itu merujuk pada laporan terbaru terkait bocornya rekaman suara dari 80 pertemuan internal TikTok. Berdasarkan rekaman, diketahui bahwa karyawan induk TikTok, ByteDance dapat mengakses informasi pribadi pengguna.
Dikatakan bahwa semua informasi pribadi pengguna ada di China. Seorang direktur TikTok mengatakan dalam pertemuan lain bahwa karyawan yang berbasis di Beijing disebut sebagai “Master Admin” karena memiliki akses ke segalanya.
”Jelas bahwa TikTok menimbulkan risiko keamanan nasional yang tidak dapat diterima karena pengumpulan datanya yang ekstensif dikombinasikan dengan akses Beijing yang tampaknya tidak terkendali ke data sensitif,” ungkap Brendan Carr, dilansir dari Engadget, Rabu (29/6).
Lihat Juga :