Profil Profesor Sedyatmo, Penemu Pondasi Cakar Ayam dari Indonesia yang Mendunia
Senin, 20 Juni 2022 - 09:31 WIB
loading...
A
A
A
Dalam perjalanan karier dan pengabdiannya sebagai Insinyur, bangsa Indonesia kemudian mencatat kegemilangan karyanya melalui Konstruksi Cakar Ayam yang digagasnya pada tahun 1962. Sistem pondasi cakar ayam ini juga telah dikenal dibanyak negara, bahkan telah mendapat pengakuan paten internasional di 11 negara, di antaranya Indonesia, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Belgia, Kanada, Amerika Serikat, Belanda, dan Denmark.
Baca juga; 5 Ilmuwan Indonesia yang Terkenal di Luar Negeri, Nomor 3 Pernah Menjabat Presiden RI
Dikutip dari laman ftik.itpln.ac.id, pondasi cakar ayam tersusun dari pelat beton bertulang tipis yang didukung buis-buis beton bertulang yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan pelat beton pada jarak 200-250 cm. Tebal pelat beton antara 10-20cm, sedang pipa buis beton bertulang berdiameter 120 cm dengan ketebalan sekitar 8 cm dan panjang 150-250 cm.
Buis-buis beton ini gunanya untuk pengaku pelat. Dalam mendukung beban bangunan, pelat buis beton dan tanah yang terkurung di dalam pondasi bekerja sama sehingga menciptakan suatu sistem komposit yang di dalam cara bekerjanya secara keseluruhan identik dengan pondasi rakit raft foundation.
![Profil Profesor Sedyatmo, Penemu Pondasi Cakar Ayam dari Indonesia yang Mendunia]()
Lahirnya ide kreatif teknik cakar ayam berawal dari kesulitan tenaga pelaksana konstruksi menghadapi tanah lunak. Hal tersebut juga dialami Sedyatmo pada tahun 1962, saat menjadi pejabat di PLN dan ditugaskan memimpin proyek pembangunan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa di kawasan Ancol, Jakarta.
Keberadaaan menara-menara listrik tersebut sangat diperlukan sebagai sarana penyaluran aliran listrik dari pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan yang saat itu akan dijadikan tempat penyelenggaraan pesta olah raga Asian Games tahun 1962. Dalam situasi genting tersebutlah Sedyatmo melahirkan ide pondasi sebagai cakar ayam.
Baca juga; 5 Ilmuwan Indonesia yang Terkenal di Luar Negeri, Nomor 3 Pernah Menjabat Presiden RI
Dikutip dari laman ftik.itpln.ac.id, pondasi cakar ayam tersusun dari pelat beton bertulang tipis yang didukung buis-buis beton bertulang yang dipasang vertikal dan disatukan secara monolit dengan pelat beton pada jarak 200-250 cm. Tebal pelat beton antara 10-20cm, sedang pipa buis beton bertulang berdiameter 120 cm dengan ketebalan sekitar 8 cm dan panjang 150-250 cm.
Buis-buis beton ini gunanya untuk pengaku pelat. Dalam mendukung beban bangunan, pelat buis beton dan tanah yang terkurung di dalam pondasi bekerja sama sehingga menciptakan suatu sistem komposit yang di dalam cara bekerjanya secara keseluruhan identik dengan pondasi rakit raft foundation.

Lahirnya ide kreatif teknik cakar ayam berawal dari kesulitan tenaga pelaksana konstruksi menghadapi tanah lunak. Hal tersebut juga dialami Sedyatmo pada tahun 1962, saat menjadi pejabat di PLN dan ditugaskan memimpin proyek pembangunan 7 menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa di kawasan Ancol, Jakarta.
Keberadaaan menara-menara listrik tersebut sangat diperlukan sebagai sarana penyaluran aliran listrik dari pusat tenaga listrik di Tanjung Priok ke Gelanggang Olah Raga Senayan yang saat itu akan dijadikan tempat penyelenggaraan pesta olah raga Asian Games tahun 1962. Dalam situasi genting tersebutlah Sedyatmo melahirkan ide pondasi sebagai cakar ayam.
Lihat Juga :