Hati-Hati Menggunakan Dexamethasone untuk Pencegahan Covid-19
Selasa, 23 Juni 2020 - 00:02 WIB
loading...
Penggunaan obat Dexamethasone harus disertai resep dokter. FOTO : Goapotik
A
A
A
LONDON - Pandemi Covid-19 telah menyebar dengan cepat ke berbagai negara di seluruh dunia. Worldometers.info mencatat lebih dari 8,7 juta orang dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan lebih dari 450 ribu orang telah meninggal dunia.
Ada pertanyaan mendasar tentang seberapa jauh perkembangan upaya penemuan obat untuk mengatasi Covid-19. Adakah obat yang sudah disetujui penggunaannya? BACA JUGA - Pompa Bensin Bermasalah, MMKSI Panggil Mitsubishi XPander Pembuatan 2017 - 2019
Semenjak Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan rilis rekomendasi penggunaan obat Dexamethasone untuk penanganan Covid-19 beberapa waktu lalu, diketahui banyak masyarakat yang kemudian mencari obat ini. Namun apakah obat tersebut dapat dipastikan keampuhannya untuk pasien Covid-19?
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) menghimbau kepada masyarakat agar tidak membeli maupun menggunakan obat dexamethasone secara sembarangan. Tanpa resep dokter, dexamethasone dapat sangat berbahaya bagi penggunanya. (Baca: Arab Saudi Buka 1.500 Masjid Makkah Meski Covid-19 Mengganas)
Deksametason yang digunakan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan efek samping seperti menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, diabetes, moon face dan masking effect, serta efek samping lainnya yang berbahaya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) juga belum memberikan ijin terkait penggunaan obat ini.
Mengutip dari laman Farmasi Universitas Indonesia (UI), Guru Besar bidang Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed., Apt. menegaskan bahwa penggunaan Dexamethasone sebagai obat Covid-19 masih menunggu hasil lebih lanjut. Maksum mengungkapkan para dokter juga khawatir bahwa penggunaan obat tersebut justru bisa memperburuk kinerja sistem kekebalan tubuh dari serangan virus.
"Beberapa peneliti di negara lain masih menunggu data resmi. Karena hasil penelitian ini belum dipublikasi pada jurnal ilmiah yang direview oleh para peer reviewers untuk menilai keabsahannya sehingga masih diperlukan uji klinik yang lebih lanjut," katanya.
Ada pertanyaan mendasar tentang seberapa jauh perkembangan upaya penemuan obat untuk mengatasi Covid-19. Adakah obat yang sudah disetujui penggunaannya? BACA JUGA - Pompa Bensin Bermasalah, MMKSI Panggil Mitsubishi XPander Pembuatan 2017 - 2019
Semenjak Badan Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan rilis rekomendasi penggunaan obat Dexamethasone untuk penanganan Covid-19 beberapa waktu lalu, diketahui banyak masyarakat yang kemudian mencari obat ini. Namun apakah obat tersebut dapat dipastikan keampuhannya untuk pasien Covid-19?
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) menghimbau kepada masyarakat agar tidak membeli maupun menggunakan obat dexamethasone secara sembarangan. Tanpa resep dokter, dexamethasone dapat sangat berbahaya bagi penggunanya. (Baca: Arab Saudi Buka 1.500 Masjid Makkah Meski Covid-19 Mengganas)
Deksametason yang digunakan dalam jangka panjang dapat mengakibatkan efek samping seperti menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, diabetes, moon face dan masking effect, serta efek samping lainnya yang berbahaya. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) juga belum memberikan ijin terkait penggunaan obat ini.
Mengutip dari laman Farmasi Universitas Indonesia (UI), Guru Besar bidang Mikrobiologi dan Bioteknologi Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Maksum Radji, M.Biomed., Apt. menegaskan bahwa penggunaan Dexamethasone sebagai obat Covid-19 masih menunggu hasil lebih lanjut. Maksum mengungkapkan para dokter juga khawatir bahwa penggunaan obat tersebut justru bisa memperburuk kinerja sistem kekebalan tubuh dari serangan virus.
"Beberapa peneliti di negara lain masih menunggu data resmi. Karena hasil penelitian ini belum dipublikasi pada jurnal ilmiah yang direview oleh para peer reviewers untuk menilai keabsahannya sehingga masih diperlukan uji klinik yang lebih lanjut," katanya.
Lihat Juga :