Dilarang Digunakan, Ukraina Pakai Pemindaian Wajah untuk Identifikasi Musuh

Kamis, 14 April 2022 - 10:05 WIB
loading...
Dilarang Digunakan, Ukraina Pakai Pemindaian Wajah untuk Identifikasi Musuh
Pemerintah Ukraina diketahui menggunakan pemindaian wajah untuk mengenali wajah musuh. Foto/dok
A A A
KIEV - Pemerintah Ukraina diketahui menggunakan pemindai wajah untuk mengenali wajah musuh dan korban yang tewas dalam perang. Ironisnya, teknologi dari perusahaan Clearview ini dinilai berbahaya dan penggunaannya dilarang di sejumlah negara.

Clearview sendiri memiliki miliaran foto dari perusahaan media sosial, seperti Facebook dan Twitter, untuk membuat database yang sangat besar dari apa yang CEO dan pendirinya Hoan Ton-That sebut sebagai mesin pencari untuk wajah.

"Ini bekerja seperti Google tapi kami menggunakan pengenalan foto untuk mencarinya," katanya seperti dikutip BBC, Kamis (14/4/2022).

Invasi Rusia membuka peluang bagi Clearview menawarkan teknologinya ke Ukraina. CEO Clearview Hoan Ton-That mengaku menawarkan teknologi mereka kepada pemerintah Ukraina dan diterima.

BACA : Terbukti Berbahaya, Meta Hapus Teknologi Pemindai Wajah di Facebook

Teknologi Clearview berhasil mengidentifikasi sejumlah korban tewas yang bergeletakan di jalan, termasuk di Kharkiv, Ukraina timur di reruntuhan bangunan. Mereka mengambil gambar dan melihat database Clearview.

Clearview melihat beberapa gambar yang tampak sangat mirip dengan mayat tersebut. Pria itu juga memiliki tato di bahu kirinya yang sama dengan mayat tersebut. Setelah mengetahui identitasnya, mayat tersebut dikubur denga identitas tersebut.

Sayangnya Clearview tidak hanya digunakan untuk mengidentifikasi mayat di Ukraina. Perusahaan juga mengkonfirmasi bahwa teknologinya digunakan oleh tentara Ukraina di pos pemeriksaan untuk membantu mengidentifikasi musuh.

BACA JUGA : Cara Menentukan Umur Fosil Pakai Metode C-14

Clearview menunjukkan kepada BBC sebuah email, dari sebuah agen Ukraina, yang mengkonfirmasi bahwa sistem itu digunakan untuk mengidentifikasi yang masih hidup.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3939 seconds (10.101#12.26)