Profil Warsidi, Pawang Taman Buaya Indonesia Jaya Selama 34 Tahun Bergaji Rp300-400 Ribu Seminggu
Kamis, 13 Januari 2022 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Hal unik yang Warsidi hadapi adalah ketika buaya sedang masuk musim kawin. Buaya-buaya biasanya sampai keluar melewati pagar kolam karena ingin mencari sarang betina. Untungnya, ada saluran pembatas antara kolam dan lokasi pengunjung.
Jika ada buaya yang bertelur, maka Warsidi harus siap siaga untuk mengamankan telur itu agar tidak dimakan buaya jantan dewasa. Hal ini membuatnya harus berdiri dan bergerak di antara buaya-buaya ganas yang kelaparan.
Warsidi memberikan makan kepada buaya 2 kali seminggu. Warsidi memberi makan buaya di hari Selasa dan Jumat. Dia juga membersihkan ilalang di kolam buaya jika semua pekerjaannya sudah selesai. (Baca juga; Dijuluki Karnivora Oportunis, Buaya Tidak Pilih-Pilih Mangsa Sebagai Makanan )
Dengan pekerjaannya yang ekstrim dan berbahaya, Warsidi selaku pawang buaya yang sudah lama bekerja di sana digaji Rp 350-400 ribu seminggu. Bahkan, di awal pandemic corona, gajinya sempat dipotong setengahnya yang membuatnya harus berhemat sebisa mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sepinya pengunjung juga berimbas kepada keuangan tempat pengangkaran. Hal ini membuatnya sedih karena buaya menjadi kurus-kurus karena kurang makan. Hal ini membuatnya teringat pesan almarhum pemilik pertama tempat pengangkaran buaya ini agar meneruskan untuk merawat buaya.
Jika ada buaya yang bertelur, maka Warsidi harus siap siaga untuk mengamankan telur itu agar tidak dimakan buaya jantan dewasa. Hal ini membuatnya harus berdiri dan bergerak di antara buaya-buaya ganas yang kelaparan.
Warsidi memberikan makan kepada buaya 2 kali seminggu. Warsidi memberi makan buaya di hari Selasa dan Jumat. Dia juga membersihkan ilalang di kolam buaya jika semua pekerjaannya sudah selesai. (Baca juga; Dijuluki Karnivora Oportunis, Buaya Tidak Pilih-Pilih Mangsa Sebagai Makanan )
Dengan pekerjaannya yang ekstrim dan berbahaya, Warsidi selaku pawang buaya yang sudah lama bekerja di sana digaji Rp 350-400 ribu seminggu. Bahkan, di awal pandemic corona, gajinya sempat dipotong setengahnya yang membuatnya harus berhemat sebisa mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sepinya pengunjung juga berimbas kepada keuangan tempat pengangkaran. Hal ini membuatnya sedih karena buaya menjadi kurus-kurus karena kurang makan. Hal ini membuatnya teringat pesan almarhum pemilik pertama tempat pengangkaran buaya ini agar meneruskan untuk merawat buaya.
Lihat Juga :