Lewat Teknologi Kesehatan Digital, Omron Peduli Jantung
Rabu, 10 November 2021 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
Penyakit jantung atau kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, lebih dari 17,9 juta penduduk meninggal karena penyakit jantung setiap tahunnya, atau sekitar 32 persen dari total angka kematian dunia.
Di Indonesia, kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular mencapai 651.481 penduduk per tahun, terdiri dari stroke 331.349 kematian, penyakit jantung koroner 245.343 kematian, penyakit jantung hipertensi 50.620 kematian, dan penyakit kardiovaskular lainnya (Institute for Health Metrics and Evaluation /IHME, 2019)
Data Riskesdas juga menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit Kardiovaskular, seperti hipertensi dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).
Tingginya prevalensi penyakit jantung di Indonesia kebanyakan disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan di masa depan.
"Makan makanan yang bergizi, hindari gula, garam, dan lemak berlebihan. Mengkonsumsi suplemen atau multivitamin bila diperlukan, serta tetap memeriksakan kesehatan secara berkala dengan cara berkonsultasi ke dokter melalui fasilitas telemedika atau berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut," ujar Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Vito A. Damay dalam salah satu diskusi bersama Yayasan Jantung Indonesia.
Untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan dan perawatan penyakit jantung, YJI menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi kesehatan digital. Bila sebelumnya masyarakat melakukan perawatan kesehatan jantung dengan mendatangi langsung fasilitas kesehatan, kini masyarakat dituntut lebih inovatif dan beralih ke digital.
Di Indonesia, kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular mencapai 651.481 penduduk per tahun, terdiri dari stroke 331.349 kematian, penyakit jantung koroner 245.343 kematian, penyakit jantung hipertensi 50.620 kematian, dan penyakit kardiovaskular lainnya (Institute for Health Metrics and Evaluation /IHME, 2019)
Data Riskesdas juga menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit Kardiovaskular, seperti hipertensi dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).
Tingginya prevalensi penyakit jantung di Indonesia kebanyakan disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Perubahan gaya hidup harus dilakukan sedini mungkin sebagai investasi kesehatan di masa depan.
"Makan makanan yang bergizi, hindari gula, garam, dan lemak berlebihan. Mengkonsumsi suplemen atau multivitamin bila diperlukan, serta tetap memeriksakan kesehatan secara berkala dengan cara berkonsultasi ke dokter melalui fasilitas telemedika atau berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut," ujar Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Vito A. Damay dalam salah satu diskusi bersama Yayasan Jantung Indonesia.
Untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan dan perawatan penyakit jantung, YJI menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi kesehatan digital. Bila sebelumnya masyarakat melakukan perawatan kesehatan jantung dengan mendatangi langsung fasilitas kesehatan, kini masyarakat dituntut lebih inovatif dan beralih ke digital.
Lihat Juga :