Mutasi Virus Covid-19, Ilmuwan Deteksi Varian Baru C.1.2 di Afrika Selatan
Rabu, 01 September 2021 - 08:45 WIB
loading...
A
A
A
Seperti dilansir World Health Organization (WHO), saat ini ada empat VOC, bernama Alpha, Beta, Gamma, dan Delta, serta empat VOI, Eta, Iota, Kappa, dan Lambda yang beredar secara global.
Alpha, Beta, dan Delta adalah yang memiliki dampak paling besar di seluruh dunia dalam hal infeksi. Secara khusus, Delta kini telah menjadi penyebab dominan COVID-19 di seluruh dunia, termasuk terobosan infeksi pada orang yang divaksinasi.
Varian ini pertama kali diidentifikasi pada Mei 2021 di Afrika Selatan dan sejak itu telah terdeteksi di tujuh negara lain di seluruh dunia termasuk Inggris, China, Republik Demokratik Kongo (DRC), Mauritius, Selandia Baru, Portugal, dan Swiss.
Dr Maria Van Kerkhove, Pimpinan Teknis COVID-19 untuk WHO memuji Afrika Selatan atas pekerjaannya dalam mengidentifikasi varian dan berbagi data. Dr Van Kerkhove juga menekankan bahwa varian tersebut tampaknya tidak memiliki keunggulan dibandingkan versi virus yang beredar saat ini.
“Saat ini, C.1.2 tampaknya tidak terlalu berbahaya dibanding Delta yang masih dominan dari semua urutan yang tersedia,” cuit Dr Van Kerkhove melalui aun twitternya.
Alpha, Beta, dan Delta adalah yang memiliki dampak paling besar di seluruh dunia dalam hal infeksi. Secara khusus, Delta kini telah menjadi penyebab dominan COVID-19 di seluruh dunia, termasuk terobosan infeksi pada orang yang divaksinasi.
Varian ini pertama kali diidentifikasi pada Mei 2021 di Afrika Selatan dan sejak itu telah terdeteksi di tujuh negara lain di seluruh dunia termasuk Inggris, China, Republik Demokratik Kongo (DRC), Mauritius, Selandia Baru, Portugal, dan Swiss.
Dr Maria Van Kerkhove, Pimpinan Teknis COVID-19 untuk WHO memuji Afrika Selatan atas pekerjaannya dalam mengidentifikasi varian dan berbagi data. Dr Van Kerkhove juga menekankan bahwa varian tersebut tampaknya tidak memiliki keunggulan dibandingkan versi virus yang beredar saat ini.
“Saat ini, C.1.2 tampaknya tidak terlalu berbahaya dibanding Delta yang masih dominan dari semua urutan yang tersedia,” cuit Dr Van Kerkhove melalui aun twitternya.
Lihat Juga :