Terungkap! Maling Online Wara-Wiri di Kemenlu Asia dan Afrika
Senin, 14 Juni 2021 - 04:02 WIB
loading...
A
A
A
Sebagian korban ditargetkan dengan executable pengumpulan data yang dirancang untuk mencari media yang dapat dipindahkan (kemungkinan besar USB flash drive). Implan secara rutin memindai drive tersebut, setelah mendeteksi penyisipan media yang dapat dipindahkan, ia kemudian mencoba menyalin semua file di dalamnya ke arsip yang dilindungi kata sandi. BackdoorDiplomacy mampu mencuri informasi sistem korban, mengambil screenshot, dan menulis, memindahkan, atau menghapus file.
Dengan menjadikan jaringan pemerintah dan perusahaan besar sebagai target, maka konsekuensi dari penyusupan dan pencurian data ini tentu saja akan sangat pelik karena mencakup:
· Pencurian kekayaan intelektual misalnya, rahasia dagang atau paten
· Informasi sensitif yang disusupi seperti data pribadi karyawan dan pengguna
· Sabotase infrastruktur organisasi penting seperti penghapusan basis data
Dampak dari serangan APT tidak akan pernah sederhana, imbasnya bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, karena rahasia negara selalu berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial dan militer.
“Menjalankan serangan APT membutuhkan lebih banyak sumber daya daripada serangan aplikasi web standar. Para pelaku biasanya adalah tim penjahat siber berpengalaman yang memiliki dukungan finansial yang besar,“ ungkap Yudhi Kukuh, IT Security Consultant PT Prosperita Mitra Indonesia.
Dengan menjadikan jaringan pemerintah dan perusahaan besar sebagai target, maka konsekuensi dari penyusupan dan pencurian data ini tentu saja akan sangat pelik karena mencakup:
· Pencurian kekayaan intelektual misalnya, rahasia dagang atau paten
· Informasi sensitif yang disusupi seperti data pribadi karyawan dan pengguna
· Sabotase infrastruktur organisasi penting seperti penghapusan basis data
Dampak dari serangan APT tidak akan pernah sederhana, imbasnya bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang, karena rahasia negara selalu berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial dan militer.
“Menjalankan serangan APT membutuhkan lebih banyak sumber daya daripada serangan aplikasi web standar. Para pelaku biasanya adalah tim penjahat siber berpengalaman yang memiliki dukungan finansial yang besar,“ ungkap Yudhi Kukuh, IT Security Consultant PT Prosperita Mitra Indonesia.
Lihat Juga :