Hadapi Industri 4.0, Teknologi NZTE Siap Dukung Perusahaan Sektor Makanan dan Minuman

Senin, 03 Mei 2021 - 21:52 WIB
loading...
Hadapi Industri 4.0,...
Hadapi Industri 4.0, Teknologi Pintar Selandia Baru siap Mendukung Operasi Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman. FOTO/ IST
A A A
MENLO PARK - Banyak pelaku usaha belum sepenuhnya menerapkan praktik Industri 4.0 seperti yang dicita-citakan dalam rencana “Making Indonesia 4.0” oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang diluncurkan pada tahun 2018.

Salah satu alasan dari lambatnya adopsi tersebut adalah kurangnya pasokan teknologi yang sesuai dan penyedia teknologi yang mahir di Indonesia, seperti yang dibahas pada live webinar, Industry 4.0: How smart plant technologies support efficiency, safety and competitiveness of F&B manufacturing for the global stage yang diselenggarakan oleh New Zealand Trade & Enterprise (NZTE).

BACA JUGA - Mutasi B.1.617 di India, Ilmuwan Pesemis dengan Vaksin Covid 19 yang Sudah Ada

Keterbukaan terhadap teknologi yang lebih maju oleh perusahaan asing akan membangkitkan dan meningkatkan daya saing global industri manufaktur Makanan & Minuman (mamin) Indonesia. Hal ini secara signifikan mendukung peningkatan efisiensi dan keselamatan pada bidan operasi pabrik, yang mana Selandia Baru unggul dalam menerapkan teknologi pabrik pintar (smart plant technologies).

Operasional pabrik, sebagai salah satu dari lima pilar utama yang diukur oleh Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), secara langsung mendukung keseluruhan sistem manufaktur bersamaan dengan empat pilar INDI 4.0 lainnya, yaitu manajemen dan organisasi; sumber daya manusia dan budaya; produk dan layanan; dan teknologi .

“Selandia Baru telah memanfaatkan perpaduan teknologi yang menggabungkan aspek fisik, digital, maupun kombinasi antara kedua aspek tersebut. Badan pemerintah dan perusahaan asing di Selandia Baru menyediakan peluang untuk mendukung manufaktur mamin Indonesia menerapkan teknologi pintar yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta keselamatan operasional pabrik.” terang Diana Permana, Komisaris Perdagangan Selandia Baru untuk Indonesia dalam ketarangan persnya.

Menurut data yang dipaparkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI), Adhi S. Lukman, 49,2 persen dari PDB Indonesia adalah pengeluaran makanan dan 16,9 persen berasal dari makanan olahan. Pertumbuhan industri mamin mengalami penurunan dari 7,8 persen pada tahun 2019 menjadi 1,5 persen pada tahun 2020 akibat adanya gangguan dari pandemi COVID-19. Hal ini dikarenakan masih banyaknya manufaktur mamin Indonesia yang beroperasi secara manual dengan kendali manusia secara
penuh.

“Industri mamin memainkan peran penting dalam perekonomian nasional dan pandemi COVID- 19 telah menyebabkan gangguan besar dalam nilai pertumbuhan dan kompetitif secara global. Teknologi Industri 4.0 menghadirkan digitalisasi dan Human Machine Interface (HMI). Inovasi tersebut akan memajukan industri mamin Indonesia dari operasional secara manual menjadi serba otomatis, lalu menjadi operasional secara otonom, sehingga mendukung manufaktur menjalankan operasionalnya dengan hemat biaya, waktu, aman dan berkelanjutan,” jelas Adhi.

Sementara itu, Travis Lee, Manajer Business Development Asia Tenggara dari Gallagher Security, perusahaan sistem keamanan dari Selandia Baru, menjelaskan, “pandemi telah mengembangkan bagaimana cara mengukur keselamatan praktik bisnis dengan kebijakan prosedur yang lebih ketat untuk mengelola risiko dari segi keamanan dan kesehatan.

” Mengadopsi teknologi berbasis smart security dapat mendukung pabrik untuk mencegah dan memitigasi potensi resiko dari kontaminasi manusia, dimulai dengan penyaringan di pintu masuk, mengelola pergerakan manusia, mengelola kapasitas ruangan, hingga pelacakan kontak (contact tracing) – semua dikelola melalui system berbasis aplikasi.”

Dalam hal mencapai efisiensi energi melalui teknologi pintar, operasional pabrik di Indonesia juga sebaiknya menerapkan sistem pendingin udara dengan sistem lebih fleksibel (high flexibility air conditioning system), daripada menggunakan sistem pendingin terpusat yang digunakan saat ini.

Dalam sistem AC dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi, setiap area pabrik memiliki pengaturannya sendiri yang terpisah dengan sistem pengaturan di area lain. AC pada masingmasing area dapat dinyalakan atau dimatikan bila diperlukan, sehingga unit AC hanya dinyalakan di ruangan aktif yang ditempati. Biaya listrik didasarkan pada penggunaan yang sebenarnya yang sesuai dengan waktu operasi pabrik dan jam kerja shift yang berbeda-beda.

“Kita membutuhkan teknologi yang mampu menyesuaikan dengan kebutuhan saat ini yakni jam operasional yang beragam, kebutuhan hemat energi, dan keperluan kesehatan. Sistem AC yang berdiri sendiri mampu mencegah udara bercampur antar ruangan dan sistem dapat mengatasi beban parsial secara efektif dan ekonomis serendah 3,5kW”, jelas WengFei Ho, General Manager Termperzone Singapura.

Hal senada diungkapkan, Asep Noor, General Manager Manufacturing PT Indolakto (Indomilk) selaku pelaksana
Industri 4.0 mengakui bahwa transformasi Industri 4.0 adalah suatu kebutuhan karena menjawab tantangan industri mamin dalam hal keselamatan, efisiensi, kecepatan fleksibilitas produksi, serta jaminan kualitas produk. Dari sisi operasional, PT Indolakto mengelola semuanya secara digital dari hulu hingga hilir untuk mengatur dan memantau prosedur kinerja secara real-time yang bisa dilakukan dari mana saja melalui koneksi internet.

Elise Salt, Insinyur Digital Beca, perusahaan konsultan teknik dan teknologi Selandia Baru, menggarisbawahi bahwa banyak manufaktur yang masih belum mengadopsi inovasi cerdas karena kesulitan dalam menentukan strategi yang jelas untuk mengimplementasikan teknologi, dan edukasi sebagai langkah menuju solusi.

“Industri 4.0 Demonstration Network adalah inisiatif pemerintah Selandia Baru yang bermitra
dengan Beca dan EMA, yang menyediakan roadmap bagi manufaktur dalam mempelajari aplikasi potensial dan nilai dari berbagai alat industri 4.0. Kami mengedukasi para perusahaan manufaktur melalui studi kasus dan kunjungan langsung ke lokasi pabrik untuk lebih memahami bagaimana solusi Industri 4.0 dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, sehingga memungkinkan manufaktur untuk mulai merancang strategi perubahan mereka,” tutup Elise.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Cara Kemenkominfo Targetkan...
Cara Kemenkominfo Targetkan 50 Juta Orang Memiliki Literasi Digital pada 2024
JB GOT7 Akhirnya Punya...
JB GOT7 Akhirnya Punya Akun Twitter, Begini Tweet Pertamanya
Rekomendasi
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
Melejit Bersama Holding...
Melejit Bersama Holding Ultra Mikro, Warung Sembako di Semarang Ini Sukses Dongkrak Ekonomi Keluarga
TAUD Ajukan Penghentian...
TAUD Ajukan Penghentian Sidang Kasus Andrie Yunus ke Pengadilan Militer Jakarta
Berita Terkini
RTX 5070Ti, OLED, dan...
RTX 5070Ti, OLED, dan Bola Sepak: Laptop Piala Dunia Buatan Lenovo Ini Harganya Rp62 Juta
Helikopter S-300 Tak...
Helikopter S-300 Tak Berawak Jadi Senjata Anti-kapal Selam
X Luncurkan Fitur Reaksi...
X Luncurkan Fitur Reaksi Video untuk Pengguna iOS
WhatsApp Menguji Fungsi...
WhatsApp Menguji Fungsi Fitur Lihat Sekali untuk Pesan
Acer Luncurkan Dua Kacamata...
Acer Luncurkan Dua Kacamata Pintar dengan Gambar Virtual 172 Inci
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, AI Dilibatkan Langsung dalam Operasi Medis
Infografis
5 Makanan dan Minuman...
5 Makanan dan Minuman yang Diam-diam Bisa Bikin Gemuk
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved