YAPPIKA-ActionAid Wujudkan Pendidikan Dasar yang Aman, Inklusif dan Berkualitas
Minggu, 02 Mei 2021 - 14:10 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu kegiatan yang telah berlangsung adalah event virtual ride bertajuk Ride 4 Change. Masyarakat dapat memberikan dukungan nyata untuk membantu dengan bersepeda. Ride 4 Change ini sendiri telah dibuka pendaftarannya hingga 30 Mei 2021.
Reza Rahadian selaku Duta Persahabatan YAPPIKA-ActionAid mengatakan, “Sejak tahun 2016 saya Saya terlibat cukup aktif mendukung kampanye Sekolah Aman, salah satu gerakan yang diprakarsai oleh YAPPIKA-ActionAid untuk mendukung terwujudnya sekolah inklusif bagi semua. Saya melihat langsung bahwa kerja kampanye dan advokasi untuk terus mengingatkan pemerintah, menyajikan fakta-fakta dari lapangan dan meningkatkan dukungan publik akan mendorong percepatan penanganan sekolah-sekolah rusak dan terwujudnya Sekolah Aman yang inklusif bagi anak-anak Indonesia.”
Sementara itu, Direktur Eksekutif YAPPIKA-ActionAid, Fransisca Fitri menyajikan fakta bahwa hasil penelitian YAPPIKA-ActionAid di 6 kabupaten/kota menunjukkan bahwa hampir 250 .000 ribu atau 1 dari 5 ruang kelas SD Negeri di Indonesia dalam kondisi rusak, rawan roboh, lembab, dan berdebu. Kondisi ini menempatkan 1 dari 5 anak SD setiap hari terancam bahaya belajar di ruang kelas yang rusak. Data yang diolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan bahwa setidaknya ada 150 ribu SD berada di kawasan rawan bencana. Sebanyak 36% SD Negeri di Indonesia juga tercatat tidak punya toilet yang layak.
“Dengan dukungan penuh para mitra kerja kami di daerah, Uni Eropa European Union (EU) serta dukungan korporasi dan dana publik, 5.362 anak-anak di 92 sekolah dampingan sudah merasakan fasilitas Pendidikan pendidikan yang lebih baik dan bisa belajar dengan nyaman di kelas. Namun begitu, perjuangan kita masih panjang karena masih ada ribuan sekolah dengan kondisi tidak layak.
Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hardiknas ini saya sSaya harapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai ajang pembelajaran dan sarana diskusi yang berkualitas untuk mempromosikan tata kelola dan akuntabilitas yang baik di sektor pendidikan di Indonesia, sejalan dengan pencapaian indikator #4 dari Sustainable Development Goals (SDGs) melalui keterlibatan masyarakat sipil yang aktif dalam proses pembangunan publik”, kata Fransisca Fitri.
Reza Rahadian selaku Duta Persahabatan YAPPIKA-ActionAid mengatakan, “Sejak tahun 2016 saya Saya terlibat cukup aktif mendukung kampanye Sekolah Aman, salah satu gerakan yang diprakarsai oleh YAPPIKA-ActionAid untuk mendukung terwujudnya sekolah inklusif bagi semua. Saya melihat langsung bahwa kerja kampanye dan advokasi untuk terus mengingatkan pemerintah, menyajikan fakta-fakta dari lapangan dan meningkatkan dukungan publik akan mendorong percepatan penanganan sekolah-sekolah rusak dan terwujudnya Sekolah Aman yang inklusif bagi anak-anak Indonesia.”
Sementara itu, Direktur Eksekutif YAPPIKA-ActionAid, Fransisca Fitri menyajikan fakta bahwa hasil penelitian YAPPIKA-ActionAid di 6 kabupaten/kota menunjukkan bahwa hampir 250 .000 ribu atau 1 dari 5 ruang kelas SD Negeri di Indonesia dalam kondisi rusak, rawan roboh, lembab, dan berdebu. Kondisi ini menempatkan 1 dari 5 anak SD setiap hari terancam bahaya belajar di ruang kelas yang rusak. Data yang diolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menunjukkan bahwa setidaknya ada 150 ribu SD berada di kawasan rawan bencana. Sebanyak 36% SD Negeri di Indonesia juga tercatat tidak punya toilet yang layak.
“Dengan dukungan penuh para mitra kerja kami di daerah, Uni Eropa European Union (EU) serta dukungan korporasi dan dana publik, 5.362 anak-anak di 92 sekolah dampingan sudah merasakan fasilitas Pendidikan pendidikan yang lebih baik dan bisa belajar dengan nyaman di kelas. Namun begitu, perjuangan kita masih panjang karena masih ada ribuan sekolah dengan kondisi tidak layak.
Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hardiknas ini saya sSaya harapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai ajang pembelajaran dan sarana diskusi yang berkualitas untuk mempromosikan tata kelola dan akuntabilitas yang baik di sektor pendidikan di Indonesia, sejalan dengan pencapaian indikator #4 dari Sustainable Development Goals (SDGs) melalui keterlibatan masyarakat sipil yang aktif dalam proses pembangunan publik”, kata Fransisca Fitri.
(wbs)
Lihat Juga :