Catat Rekor, Beijing Dihantam Badai Pasir dan Polusi Udara Terparah

Selasa, 16 Maret 2021 - 03:40 WIB
loading...
Catat Rekor, Beijing...
Bangunan di kawasan pusat bisnis Beijing menghilang dari pandangan selama badai pasir. Foto/Leo Ramirez/AFP/Getty Images/Live Science
A A A
BEIJING - Beijing telah diselimuti salah satu badai pasir paling parah dalam lebih dari satu dekade terakhir. Ditambah polusi udara yang juga parah, kondisi ini menciptakan kabut asap beracun yang mengubah langit menjadi oranye dan membuat cakrawala menghilang. Baca juga: Peternakan Bulu di China Ini Dicap sebagai 'Pabrik Virus'

Badai pasir melanda ibu kota China pada Senin pagi (15/3/2021), setelah angin kencang dari Mongolia meniup debu dari gurun Gobi melewati perbatasan. Di Mongolia, 341 orang hilang setelah badai pasir yang sama bertiup di seluruh negeri, menurut The Guardian.

Memperburuk situasi, polusi udara Beijing telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir karena negara itu keluar dari lockdown. Indeks Kualitas Udara (AQI) untuk kota tersebut mencapai tingkat "berbahaya" 999, menurut proyek Indeks Kualitas Udara Dunia. Untuk konteksnya, pada saat yang sama, AQI untuk New York adalah 26.

"Ini adalah cuaca badai pasir paling hebat yang pernah dialami negara kami dalam 10 tahun, serta meliputi wilayah terluas," kata Pusat Meteorologi Nasional China setelah mengeluarkan peringatan cuaca, menurut sebuah pernyataan.

Lebih dari 400 penerbangan masuk dan keluar dari Beijing dibatalkan. Pihak berwenang memerintahkan penduduk untuk tetap di dalam, meskipun banyak yang memberanikan diri untuk mengambil gambar kota menakjubkan saat ditelan debu oranye tebal.

Intensitas Badai Pasir
Badai pasir tidak jarang terjadi di Beijing dan China utara, karena letaknya yang dekat dengan Gurun Gobi.

Selama tahun 1950-an, penggundulan hutan dan erosi tanah, terutama di utara, memicu badai pasir yang lebih sering dan lebih hebat. Orang-orang menebang hutan yang pernah hadir di perbatasan dengan Mongolia dan menyediakan penyangga alami terhadap pasir. Beruntung proyek penanaman pohon massal yang dimulai pada tahun 1970-an telah membantu mengatasi kerusakan tersebut.

Sebagai bagian dari Program Hutan Penampungan Tiga Utara, 87 juta hektare (5 juta hektar) pohon akan ditanam di dekat perbatasan dengan Mongolia pada tahun 2050, menurut Bloomberg.

Akibatnya, jumlah hari di mana pasir berhembus ke Beijing setiap tahun telah turun dari 26 hari pada 1950-an menjadi hanya tiga hari pada 2010. Ini membuat badai pasir seperti ini lebih aneh.

Hanya perubahan iklim telah membuat angin lebih kencang. Sehingga dapat memperburuk badai pasir di masa depan.

Masalah Kesehatan
Beijing dan kota-kota China lainnya menghadapi tingkat polusi udara yang mengerikan. Ini karena ketergantungan mereka pada tenaga batu bara, populasi yang meningkat, dan lalu lintas mobil yang meningkat.

Polusi udara sudah berbahaya bagi kesehatan, tapi dikombinasikan dengan badai pasir. Ini bisa menjadi masalah yang lebih serius, menurut bloomberg dilansir Live Science.

Selama badai pasir saat ini, tingkat partikel berukuran 10 mikrometer atau kurang -disebut PM10- di Beijing mencapai 8.000 mikrogram per meter kubik. Menurut Sky News, artinya lebih dari 160 kali batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jika polusi udara buatan manusia terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang, badai pasir bisa menjadi jauh lebih bermasalah bagi penduduk kota-kota besar di China seperti Beijing. Bahkan jika badai pasir itu sendiri semakin jarang terjadi. Baca juga: Telkomsel Tebar Kuota Internet Kemendikbud, Begini Cara Ceknya!
(iqb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Hewan Semakin Menderita...
Hewan Semakin Menderita seperti Manusia Akibat Degradasi Lingkungan
Gelombang Panas Ekstrem...
Gelombang Panas Ekstrem Picu Darurat Iklim Global
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, QNET Ajak Mengatasi Polusi Udara dari Rumah
Pendidikan Iklim Sejak...
Pendidikan Iklim Sejak Dini: Italia Wajibkan, Indonesia Baru Punya Oase di Semarang
Panas Ekstrem di Indonesia...
Panas Ekstrem di Indonesia Bakal Berlangsung Lebih Lama
Israel Dikepung Badai...
Israel Dikepung Badai Pasir, Langit Jerusalem Berubah Merah Darah
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Pakar ITB Soroti Tantangan...
Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Pramono Jadi Wakil Ketua...
Pramono Jadi Wakil Ketua C40 Cities, Fahira Idris: Dunia Akui Peran Strategis Jakarta
Rekomendasi
Alwi Farhan Jagokan...
Alwi Farhan Jagokan Portugal di Piala Dunia 2026: Cristiano Ronaldo For The Last Dance!
Qodari: Stimulus Tarif...
Qodari: Stimulus Tarif Transportasi Dikucurkan saat Libur Sekolah dan Nataru
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
Berita Terkini
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi Industri, Hypernet Technologies Perkokoh Kemitraan Strategis di Bravo 500 Summit 2026
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
Infografis
Houthi Klaim Mampu Gagalkan...
Houthi Klaim Mampu Gagalkan Serangan Udara AS dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved