Ilmuwan Ungkap Rahasia Fosil Manusia Purba dari 3,6 Juta Tahun Lalu
Selasa, 02 Maret 2021 - 20:34 WIB
loading...
A
A
A
Beaudet mencatat kemungkinan fosil ini memainkan peran kunci dalam peningkatan ukuran otak Australopithecus menjadi manusia modern. “Jaringan gigi sangat terawat. Dia relatif tua karena giginya sudah cukup aus," kata Beaudet. (Baca juga: Google Maps Ungkap Mahluk Misterius di Antartika)
Ilmuwan lainnya, Thomas Connolley mengatakan, Little Foot merupakan elemen pertama dari kerangka yang ditemukan, tingginya kira-kira 130 cm. Little Foot dianggap penting dibandingkan dengan fosil yang disebut Lucy yang berumur sekitar 3,2 juta tahun dan kurang lengkap.
Keduanya adalah spesies dari genus Australopithecus tetapi memiliki ciri biologis yang berbeda. Sama seperti manusia modern dan Neanderthal adalah spesies dari genus yang sama - Homo - tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Spesies Lucy disebut Australopithecus afarensis.
Penemuan sinkrotron didasarkan pada penelitian sebelumnya tentang Little Foot. Spesies ini dapat berjalan tegak sepenuhnya, tetapi memiliki ciri yang menunjukkan bahwa ia juga masih memanjat pohon. Ia memiliki fitur wajah seperti gorila dan tangan yang kuat untuk memanjat. (Baca juga: Arus Besar Laut Samudera Atlantik Berubah, Bumi Dalam Bahaya)
Kakinya lebih panjang dari lengannya, seperti pada manusia modern, menjadikan ini hominin paling kuno yang secara pasti diketahui memiliki sifat itu. “Semua sisa kerangka Australopithecus sebelumnya terpisah-pisah,” kata Clarke.
Ilmuwan lainnya, Thomas Connolley mengatakan, Little Foot merupakan elemen pertama dari kerangka yang ditemukan, tingginya kira-kira 130 cm. Little Foot dianggap penting dibandingkan dengan fosil yang disebut Lucy yang berumur sekitar 3,2 juta tahun dan kurang lengkap.
Keduanya adalah spesies dari genus Australopithecus tetapi memiliki ciri biologis yang berbeda. Sama seperti manusia modern dan Neanderthal adalah spesies dari genus yang sama - Homo - tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Spesies Lucy disebut Australopithecus afarensis.
Penemuan sinkrotron didasarkan pada penelitian sebelumnya tentang Little Foot. Spesies ini dapat berjalan tegak sepenuhnya, tetapi memiliki ciri yang menunjukkan bahwa ia juga masih memanjat pohon. Ia memiliki fitur wajah seperti gorila dan tangan yang kuat untuk memanjat. (Baca juga: Arus Besar Laut Samudera Atlantik Berubah, Bumi Dalam Bahaya)
Kakinya lebih panjang dari lengannya, seperti pada manusia modern, menjadikan ini hominin paling kuno yang secara pasti diketahui memiliki sifat itu. “Semua sisa kerangka Australopithecus sebelumnya terpisah-pisah,” kata Clarke.
(ysw)
Lihat Juga :