Pengamat: Jangan Cari Keuntungan di Internet dari Musibah Sriwijaya Air SJ 182!

Minggu, 10 Januari 2021 - 19:35 WIB
loading...
Pengamat: Jangan Cari...
Pakar kemanan siber, Pratama Persadha, mengingatkan biasanya dengan peristiwa seperti ini akan banyak konten hoaks berseliweran.
A A A
JAKARTA - Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta - Pontianak, dilaporkan hilang kontak setelah empat menit setelah take off dari Bandara Soekarno - Hatta, pada pukul 14.40 WIB, Sabtu (9/1). Tim SAR Gabungan menemukan titik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di sekitar Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Tim otoritas terus berupaya mencari puing-puing serta korban dari kecelakaan tersebut.

Sejak berita pesawat nahas ini ramai bermunculan, banyak pula warganet yang mencari tahu nama para korban dan akun sosial medianya, kemudian membagikannya kembali.

BACA JUGA: Panglima TNI: Tim SAR Gabungan Tandai Dua Sinyal Black Box

Tak ayal, beberapa akun sosial media korban tersebar di internet. Mayoritas yang dibagikan kembali oleh warganet untuk dijadikan konten adalah unggahan terakhir korban di sosial media.

Pakar keamanan siber, Pratama Persadha, menilai tidak etis warganet di Tanah Air mengunggah kembali hal tersebut. Menurutnya, fenomena ini sebenarnya tidak biasa terjadi.

Pengamat: Jangan Cari Keuntungan di Internet dari Musibah Sriwijaya Air SJ 182!

Ibunda Oke Dhurrotul Jannah (23), memperlihatkan foto Pramugari NAM Air yang ikut menjadi korban dalam peristiwa jatuhnya Sriwijaya Air, Sabtu (9/1) di Kepulauan Seribu. Foto: MNC Portal Indonesia/Adi Haryanto

Pratama menjelaskan, fenomena ini terjadi karena tidak lama setelah hilangnya kontak pesawat Sriwijaya Air, di banyak grup WhatsApp langsung tersebar foto dan file PDF manifest penumpang.

Manifest tersebut berisikan nama lengkap semua penumpang, yang kemudian menyulut keingintahuan warganet untuk mencari akun Facebook, Instagram, Twitter, maupun Youtube para korban.

"Sebagian besar dari netizen ini pastinya penasaran bagaimana postingan terakhir para korban, apakah ada tanda-tanda menunjukkan bahwa statusnya seperti salam perpisahan atau sejenisnya," kata Pratama, kepada MNC Portal, Minggu (10/1).

Lebih lanjut, Pratama menuturkan, warganet mungkin sekadar penasaran dan tidak punya tujuan buruk, meskipun tetap tidak etis terutama di tengah kesedihan keluarga korban.

Namun dia menggaris bawahi, ada juga yang memanfaatkan ini menjadi click bait, membuat berita dan unggahan yang menyesatkan. Serta mencari keuntungan dari musibah yang terjadi. Ini yang harus diwaspadai.

Dalam banyak kejadian jatuhnya pesawat di berbagai belahan dunia, sering kali beredar kabar hoaks terkait adanya korban yang sempat mengirimkan WhatsApp atau telepon saat posisi pesawat akan jatuh. Hal semacam ini sering membuat masyarakat penasaran dan tertipu dengan berita tersebut.

"Karena itu harus sangat selektif kita memilih berita. Ini juga harus menjadi pelajaran para pihak bagaimana manifest bisa dengan cepat bocor ke publik," tambah chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) itu.

Pratama juga mengingatkan kepada para influencer, bisa membantu mengingatkan dan mengedukasi warganet untuk menjaga perasaan keluarga korban.

BACA JUGA: Laporan Investigasi Sementara KNKT Ihwal Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182

Selain itu yang paling penting, biasanya dengan peristiwa seperti ini akan banyak konten hoaks berseliweran. Ada yang membidik trafik di YouTube, web, media sosial, maupun yang menyebarkan link palsu berisi malware.

Intinya, berhati-hati dan jangan mudah membuka link URL dengan alamat yang aneh dan tidak biasa. Misalnya mengaku dari portal berita resmi namun menggunakan domain yang tidak biasa.

"Lumrahnya di tanah air domain memakai .com .id .co.id, itupun masih sering ditemui web abal-abal yang beritanya menyesatkan, jadi kita harus saling mengingatkan," tandas Pratama.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 5 Aplikasi Pelacak...
Ini 5 Aplikasi Pelacak Pesawat untuk Memantau Penerbangan lewat Smartphone
Tragedi Jatuhnya Sriwijaya...
Tragedi Jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Dirut Maskapai Janji Jawab Tuntutan Keluarga Korban
Hampir 2 Tahun, Keluarga...
Hampir 2 Tahun, Keluarga Korban Jatuhnya Sriwijaya Air Belum juga Terima Santunan
Sriwijaya Air SJ-182...
Sriwijaya Air SJ-182 Sempat Diminta Berhenti di Ketinggian 11.000 Kaki Sebelum Jatuh
Rekomendasi
Logo Koperasi dalam...
Logo Koperasi dalam Iklan Air Mineral Dinilai Bisa Membingungkan Konsumen
Dokter Tifa: Dakwaan...
Dokter Tifa: Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Berisi Pasal Lemah
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Berita Terkini
Google dan A24 Berkolaborasi...
Google dan A24 Berkolaborasi Kembangkan Teknologi AI di Industri Film
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
Aliansi Intelijen Keluarkan...
Aliansi Intelijen Keluarkan Peringatan Mendesak tentang Risiko yang Ditimbulkan AI
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved