Vaksin COVID-19 Telah Disuntikan, 1.000 Kasus Infeksi Corona VUI - 202012/01 Muncul

Kamis, 17 Desember 2020 - 12:08 WIB
loading...
Vaksin COVID-19 Telah...
Ilustrasi laporam perkembangan kasus baru COVID-19 di berbagai negara. FOTO/ IST
A A A
LONDON - Temuan mutasi virus corona VUI - 202012/01 menimbulkan ketakutan dikalangan ilmuwan, pasalnya virus ini mampu menginfeksi ribuan orang yang telah disuntik vaksin COVID- 19. BACA JUGA - Temuan Mutasi Corona VUI - 202012/01, Ilmuwan Ragukan Khasiat Vaksin COVID-19

Seperti dilansir dari Daily, Inggris menjadi pertama di dunia yang gelar vaksinasi massal dari vaksin COVID-19. Mereka menggunakan vaksin buatan Pfizer pada Selasa, 11 Desember 2020. (Baca juga: FDA Siapkan Uji Vaksin Corona untuk Anak di Bawah 16 Tahun )

Namun seperti yang dilaporkan Daily, Ada lebih dari 1.000 kasus virus baru yang dikonfirmasi, sebagian besar di Inggris selatan. Lokasi pastinya belum terungkap.

Mutasi corona yang disebut VUI - 202012/01 pertama kali ditemukan pada bulan September di Kent Inggris 2020.

Profesor Nick Loman, dari Institute of Microbiology and Infection di University of Birmingham, adalah anggota Covid-19 Genomics UK Consortium Inggris yang mempelajari mutasi tersebut.

Dia berkata: "Sebenarnya ada 17 perubahan yang akan mempengaruhi struktur protein dalam beberapa cara yang membedakan varian ini dari jenis nenek moyang yang sama dari varian lain yang beredar, yang jumlahnya banyak.

"Ini mengejutkan. Ada cabang yang sangat panjang yang kembali ke nenek moyang yang sama, dan itu masalah yang sangat menarik mengapa demikian."

Inggris menjadi negara pertama yang memulai vaksinasi COVID-19 ke warganya. Proses vaksinasi bukan asal menyuntikkan langsung ke dalam tubuh, melainkan ada banyak proses panjang yang harus dilalui lebih dulu.

Setelah peneliti melakukan lima tahapan pengembangan vaksin, maka tiap negara memiliki regulasi serta mekanisme tersendiri, untuk menguji apakah vaksin tersebut layak. Ada badan khusus tersendiri yang menangani ini, seperti National Health Service (NHS) di Inggris.

NHS merupakan layanan kesehatan masyarakat di Inggris Raya yang bisa dijadikan contoh untuk Indonesia. Dalam menghadapi pandemi Virus Corona COVID-19, NHS berada di garda terdepan dalam kasus ini.

Ada ketentuan mekanisme hukum administrasi vaksin COVID-19 yang dilakukan NHS. Dalam situs england.nhs.uk dijelaskan sejumlah Legal mechanisms for administration of the COVID-19 Vaccine.

Biasanya vaksin sudah harus memiliki izin edar di Inggris dan informasi rinci spesifik tentang produk yang tersedia dan diterbitkan dalam bentuk Ringkasan Karakteristik Produk (SmPC).

Informasi ini mencakup informasi berupa nama dan fungsi obat, keefektifan vaksin, kelompok pasien tempat vaksin dilisensikan untuk digunakan, reaksi yang merugikan, kontraindikasi dan peringatan penyimpanan, serta rekonstitusi dan rute administrasi. Ini adalah informasi kunci yang menginformasikan perkembangan dokumen resep dan biasanya tersedia sebelum dimulainya program imunisasi baru.

Dikutip dari laman Time, Inggris menjadi negara barat pertama yang mengotorisasi penggunaan vaksin COVID-19 pada 1 Desember, ketika regulator obat-obatan memberi lampu hijau pada vaksin yang diproduksi Pfizer dan BioNTech.

Badan Pengatur Produk Kesehatan dan Obat-obatan (MHRA) Inggris memberikan otorisasi dengan rekor kecepatan. Hanya tiga minggu setelah Pfizer memublikasikan data pertama dari tahap akhir uji klinis vaksin COVID-19.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
NASA Temukan Sesuatu...
NASA Temukan Sesuatu yang Misterius saat Perubahan Waktu Siang ke Malam
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Facebook Luncurkan Mode...
Facebook Luncurkan Mode Pencarian AI, Begini Cara Pakainya
NASA Temukan Planet...
NASA Temukan Planet Raksasa dengan Suhu seperti di Bumi dan Dipenuhi Gas Metana
Fenomena Titik Dingin...
Fenomena Titik Dingin Atlantik Utara Terdeteksi, Tanda-tanda Bumi Sekarat Kian Nyata
Lithuania Siap Luncurkan...
Lithuania Siap Luncurkan Mobil yang Bisa Berubah Jadi Robot
Audi Nuvolari Spyder...
Audi Nuvolari Spyder versi Konvertibel Akan segera Diluncurkan
Angkat Pangan dan Nutrisi,...
Angkat Pangan dan Nutrisi, Peneliti Indonesia Masuk Daftar Asian Scientist 100
Rekomendasi
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Kurang dari 12 Jam,...
Kurang dari 12 Jam, Satreskrim Polres Pelalawan Tangkap Perampok Sadis
Jokowi dan PSI Dinilai...
Jokowi dan PSI Dinilai Satu Paket Politik, Ini Temuan Survei LPI
Berita Terkini
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
SpaceX: IPO Terbesar...
SpaceX: IPO Terbesar Sejarah, Eforia Tercepat yang Menguap
LG Pasang Taruhan Besar:...
LG Pasang Taruhan Besar: AI Jadi Jantung Seisi Rumah
Infografis
Hamas Telah Lumpuhkan...
Hamas Telah Lumpuhkan 1.000 Kendaraan Tempur Milik Zionis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved