NASA Dapat Jatah 10% Asteroid Ryugu Milik JAXA Jepang

Rabu, 16 Desember 2020 - 13:15 WIB
loading...
NASA Dapat Jatah 10%...
NASA dikabarkan dijatah 10% material debu Asteroid Ryugu milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA). Foto/Ist
A A A
TOKYO - Para ilmuwan berharap butiran gelap (material debu) dari Asteroid Ryugu akan meningkatkan pemahaman manusia tentang pembentukan tata surya. Ya, misi Jepang membawa kembali debu atau asteroid ke Bumi telah berhasil.

Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA) mengkonfirmasi bahwa pada 14 Desember kapsul dari pesawat luar angkasa Hayabusa2, yang mendarat di gurun Australia pekan lalu, mengandung butiran hitam dari asteroid Ryugu. “Konfirmasi sampel adalah pencapaian yang sangat penting bagi kami dan JAXA,” kata Yuichi Tsuda, Manajer Proyek untuk Misi di JAXA, di Sagamihara, Jepang, seperti dikutip Space.com.

JAXA mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka mengamati material berpasir di pintu masuk ruang pengumpulan pada Hayabusa2. Tetapi mereka belum melihat ke dalam untuk menyaksikan apakah ada lebih banyak debu asteroid yang bersembunyi di sana. Ini adalah kedua kalinya para ilmuwan mengembalikan materi dari asteroid.

Sampel dari Asteroid Ryugu dikabarkan dapat memberi para peneliti wawasan penting tentang evolusi awal planet. Serta membantu menjelaskan asal-usul air di Bumi.

"Sampel yang mengandung bahan asteroid berharga akan memberi para ilmuwan informasi penting tentang pembentukan Tata Surya," kata Ed Kruzins, Direktur Kompleks Komunikasi Luar Angkasa Canberra di Organisasi Riset Ilmiah dan Industri Persemakmuran, yang membantu melacak pesawat ruang angkasa dan pertemuannya dengan Ryugu.

"Gambar yang diambil Hayabusa2 selama operasi pendaratannya membuat kami yakin bahwa pesawat ruang angkasa itu mengumpulkan sampel Ryugu," ucap Satoru Nakazawa, Wakil Manajer Misi, dalam email saat berada di Woomera, Australia. Tetapi tim tidak dapat mengetahui secara pasti sampai mereka membongkar kapsul tersebut dan melihat debu gelap.

Sekitar 57 jam setelah kapsul ditemukan, tim mengirimkannya kembali ke Jepang. "Pengiriman cepat, berarti sampel yang kami dapatkan dari Ryugu sangat murni tanpa kontaminasi dari atmosfer Bumi dan kami memastikan bahwa tidak ada kebocoran," kata Tsuda.

"Setelah kapsul dibuka sepenuhnya, kemungkinan hari ini, ilmuwan JAXA akan mengukur massa bahan dan mempelajari komposisi dan strukturnya. Mereka berharap dapat mengumpulkan setidaknya 0,1 gram material," kata Yoshikawa Makoto, Manajer Misi untuk Hayabusa2 di JAXA.

Sekitar 10% dari materi yang dibawa pesawat ruang angkasa ini akan dikirim ke NASA pada Desember 2021 untuk ditukar dengan sampel dari Asteroid Bennu. Material tersebut dikumpulkan oleh pesawat ruang angkasa OSIRIS-REx pada bulan Oktober kemarin dan akan tiba di Bumi pada akhir 2023. Sebanyak 15% lainnya akan tersedia untuk peneliti internasional, dan sekitar 40% akan disimpan untuk diselidiki oleh ilmuwan masa depan.

Hayabusa2 mengumpulkan sampel selama satu setengah tahun mengebor dan mendorong Ryugu -asteroid kecil berbentuk seperti bola. Ryugu adalah asteroid tipe C, atau kaya karbon, yang menurut para ilmuwan mengandung mineral organik dan terhidrasi yang diawetkan sejak 4,6 miliar tahun lalu.

Sampel tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana Bumi tertutup air. Para ilmuwan mengira itu datang dari asteroid atau benda planet serupa dari wilayah luar tata surya.

Tsuda tertarik untuk mengetahui apakah sampel tersebut mengandung bahan organik yang lebih kompleks, mirip dengan yang ditemukan di Bumi. “Jika kami menemukan organik yang sangat rumit di Ryugu, itu adalah penemuan yang sangat besar,” ujarnya.

Hayabusa2 kini telah memulai perjalanan 11 tahun ke tujuan berikutnya, asteroid berputar cepat yang dikenal sebagai 1998 KY26. Untuk mencapainya, pesawat ruang angkasa akan terbang melewati asteroid lain -2001 CC21- dan melewati Bumi dua kali lagi. (Baca juga: Hati-hati Pembajakan Kode Rahasia, Uang di Rekening Bisa Ludes )
(iqb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sebuah Asteroid Menabrak...
Sebuah Asteroid Menabrak Bulan pada 2032, Dampaknya Akan Mencapai Bumi
Ilmuwan Temukan Kehidupan...
Ilmuwan Temukan Kehidupan dalam Sampel Asteroid Bennu
Merinding! Setelah 50...
Merinding! Setelah 50 Tahun Melayang di Antariksa, Voyager 1 Tiba di Tepi Tata Surya
NASA Deteksi Semburan...
NASA Deteksi Semburan Flare Matahari Kembali Normal
Karena Alasan Ini, Batu...
Karena Alasan Ini, Batu dari Mars di Afrika Diselidiki
Asteroid 2024 YR4 Diklaim...
Asteroid 2024 YR4 Diklaim Akan Menabrak Bulan
Mengenal Prof Premana,...
Mengenal Prof Premana, Dosen Astronomi ITB yang Namanya Abadi di Langit
Sahabat Miliarder Elon...
Sahabat Miliarder Elon Musk Mengambil Alih NASA, Janjikan Ini
Perseteruan Trump-Musk...
Perseteruan Trump-Musk Bakal Picu Krisis Terbesar Sejarah NASA
Rekomendasi
Terungkap! Andri Mulyono...
Terungkap! Andri Mulyono Kongkalikong dengan PPK untuk Dapat Proyek Pengadaan Motor Listrik BGN
Operasional Multi Lokasi...
Operasional Multi Lokasi Kini Bisa Dipantau dari Satu Dashboard
Hidayat Batubara Daftar...
Hidayat Batubara Daftar Balon Ketua POBSI Sumut
Berita Terkini
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
5 Cara Memilih Tempat...
5 Cara Memilih Tempat Top Up Game yang Terpercaya, AntiScam!
Desain Elegan Minimalis...
Desain Elegan Minimalis ASUS ROG Zephyrus G16 GU606 Nyaman untuk Kerja dan Gaming
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
Ini Susunan Direksi...
Ini Susunan Direksi dan Komisaris Terbaru Telkomsel 2026
Kuburan Paus Terbesar...
Kuburan Paus Terbesar dalam Sejarah Ditemukan di dasar Samudra Hindia
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved